Japan Winter Trip – [2016.12.31-2017.01.01] Day 8 & 9 (Osaka & KLIA) + Cost Count

[2016.12.31] Day 8 – Osaka

slide10

Sabtu, 31 Desember 2016. Gue bangun dengan perasaan campur-aduk. Deg-degan, senang, takut, semua jadi satu. Hari yang menjadi alasan utama gue rela pergi ke Jepang meski musim dingin. flumpool. Countdown.

Ojou sudah ada acara tahun baru dengan teman kantornya di Fukui, yang membuat gue menghabiskan 2 hari terakhir di Jepang (dan di apartemen Ojou) sendirian. Ia dan temannya berangkat sekitar jam 11an, dan saat itu gue masih leyeh-leyeh karena malas gerak. Toh, konser flumpool gue malam. Antrian goodies juga baru dibuka jam 3 sore. Awalnya, gue mau keliling Shinsaibashi dan Namba untuk beli oleh-oleh, lalu kembali ke apartemen untuk menaruh barang, dan dilanjutkan berangkat ke Jo Hall. Tapi, karena kemalasan gue, gue baru keluar apartemen jam setengah 2, dan langsung menuju Jo Hall.

Sempat bingung harus antri dari mana saat sudah sampai, dan gue hanya mengikuti arus orang pergi kemana. Niatnya gue mau antri goodies, tapi ternyata gue malah ikut antrian flumpool Jinja*. Akhirnya, gue titip goodies yang gue mau ke Wicha, dan Wicha titip omamori* dari gue. Setelah gue membeli omamori dan toshidama*, gue berfoto di depan kuil flumpool bersama Wicha dan Pat (fans flumpool dari Thailand) yang datang dari antrian goodies.
Jinja: kuil.
Omamori: semacam jimat yang berisi harapan terhadap sesuatu (misal: cinta, sukses, kaya).
Toshidama: hadiah tahun baru, biasanya amplop berisi uang (angpao). Toshidama flumpool berisi strap HP.

IMG_7486

Setelah berfoto, kami berpisah karena Wicha dan Pat mau kembali ke hotel, dan gue masih harus berlanja oleh-oleh di Shinsaibashi yang sempat tertunda oleh kemalasan gue. Btw, karena sebelumnya gue belum pernah main keliling Osaka Jo, gue memutuskan untuk wisata terlebih dahulu, sekalian keliling Jo Kouen.

Saat musim dingin, matahari terbenam lebih cepat. Sekitar pukul 4 lewat, gue menjadi saksi betapa indahnya Osaka Jo dengan langit bersemburat oranye di belakangnya. Sayangnya, Osaka Jo hari itu tutup, entah karena tanggal 31 atau hal lainnya, sehingga gue tidak bisa masuk ke dalam seperti gue menikmati Nagoya Castle. Meski demikian, gue cukup puas karena pemandangan di luar tidak kalah indah.

IMG_7491

Hm. Ini semburat oranye atau memang karena gue backlight matahari, ya?

IMG_7503

Niat awalnya, gue akan naik kereta ke Shinsaibashi dari Stasiun Tanimachi 4-chome. Pasti kalian sudah paham kalau gue mengawali kalimat dengan “niat awalnya”, hal yang terjadi bertolak belakang dengan apa yang gue niatkan. Dari Osaka Jo, gue nyasar saat berkeliling Jo Kouen, dan ujung-ujungnya malah kembali ke Stasiun Morinomiya.
Note: Stasiun Morinomiya lebih jauh satu stasiun ke arah Shinsaibashi daripada Tanimachi 4-chome.

This slideshow requires JavaScript.

Gue turun di Shinsaibashi, tapi gue lupa kalau Daiso terletak di arah yang berlawanan dengan Dotombori, sementara gue malah berjalan ke arah sana. Baru sadar setelah melewati kafe Toki wo Kakeru Shoujo yang gue kunjungi dengan Ken di hari pertama. Karena malas balik lagi, gue memutuskan untuk tidak jadi belanja oleh-oleh pernak-pernik dari Daiso.

Sampai di Dotombori, tujuan pertama gue adalah Book Off Namba. Perburuan gue hanya menghasilkan DVD MOMENT flumpool–akhirnya koleksi DVD konser gue lengkap! Titipan Lia (single TOKIO) dan incaran manga Asukon gue tidak ada. Dari Book Off, gue pindah ke Tsutaya. Single TOKIO yang Lia ingin juga tidak ada. Setelah melihat langit sudah gelap total, mungkin sekitar setengah 6 lewat, gue berangkat ke Don Quijote.

Di Donkihote (cara baca Don Quijote), gue membeli banyak snack untuk oleh-oleh. Senbei* 8 bungkus, snack dan permen Gudetama (yang kebeli karena bungkusnya lucu sekali), Alfort Matcha, dan gue lupa apa lagi. Saat hendak membayar, gue melihat stiker dan tempelan kulkas di dekat kasir dan teringat akan titipan Mbak Viani dan Mas Wadi. Gue langsung merasa bersyukur karena jadi ingat dan memasukkan dua barang itu ke dalam keranjang. Total seluruh belanjaan gue sekitar 8000 yen, dengan dua plastik super besar yang gue sendiri bingung bagaimana cara membawa barang-barang tersebut ke apartemen Ojou. Akhirnya gue naik taksi karena jarak Namba – Honmachi hanya sekitar 2 km. Lumayan, pengeluaran bertambah 1000 yen karena kemalasan gue jalan atau naik kereta, hahaha.
Senbei: kerupuk Jepang.

Sampai apartemen, gue menaruh belanjaan, ganti baju dengan kaos Countdown yang baru dibeli, dan menghangatkan diri sebentar sebelum berangkat ke Jo Hall. Gue juga sempat mengganti sepatu dan pergi dengan sepatu boots. Sebelumnya, gue pergi dengan kets. Di jalan, grup konser flumpool gue (gue, Rika-san, dan dua orang temannya) berdiskusi mengenai tempat bertemu karena kami semua sedang menuju Jo Hall (lagi). Karena gue malas ganti kereta dari Morinomiya (subway) ke JR agar dapat bisa turun di Stasiun Osaka Jo Kouen, gue bilang kalau gue akan jalan kaki dari Morinomiya, dan meminta untuk bertemu di bawah tangga turun Stasiun Jo Kouen.

Gue sempat bingung mencari di mana Rika-san dan temannya karena dekat stasiun sangat gelap. Ternyata! Dua orang yang sedang berdiri di dekat gue adalah Rika-san dan temannya! Rika-san potong rambut dan mewarnai rambutnya hitam sehingga gue tidak menyadari itu dia.

Teman Rika-san satu lagi masih di jalan, jadi kami memutuskan untuk menunggu di depan Jo Hall. Rika-san berkumpul dengan kenalannya yang lain, dan mendadak gue jadi famous karena mereka semua seolah tahu eksistensi gue dengan “Eh? Singaporu no hito?!” Mereka juga banyak mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan yang entah kenapa gue susah jawab, seperti: mengapa suka flumpool, image seperti apa flumpool di mata gue, apakah gue mengerti arti lirik lagu flumpool. Tapi mereka baik! Mereka memberi gue banyak permen dan kairo*.
Kairo: mirip seperti koyo, berfungsi untuk tetap membuat badan hangat di musim dingin.

Gue juga sempat bertemu Mao, fans flumpool yang gue kenal lewat twitter yang sebelumnya pernah mengajak bertemu sewaktu gue menonton FOR ROOTS musim panas 2015. Kami berdiri di depan Jo Hall sampai sekitar 30 menit sebelum konser di mulai (sekitar pukul 9.30, sementara kami berdiri di depan Hall dari sekitar pukul 7.30), dan saat kami berjalan memasuki Hall, gue baru menyadari kalau kaki gue beku dan sakit saat digerakkan.

Yang berujung pada…

Gue jatuh saat kami menuruni tangga untuk menuju kursi kami di Stand H baris paling depan. Untungnya, di depan gue ada Rika-san, dan gue menabrak dia; dan dia tidak ikut terjatuh, sehingga gue pun tidak terguling lebih jauh. Semua langsung heboh dan bertanya apakah gue baik-baik saja, dan gue jelaskan kalau gue tidak apa-apa. Memang saat itu sama sekali tidak terasa sakit. Malu, iya.

Kursi kami terletak di samping panggung persis. Karena kami paling depan, kami langsung heboh sendiri saat duduk karena dekat sekali dengan panggung. Rika-san dan temannya sempat ke toilet, dan beberapa menit sebelum konser dimulai, terpasang iklan drama Ryuta, Totsuzen desu ga Ashita Kekkon Shimasu, dan versi parodi dari Kazuki, yaitu “Totsuzen desu ga Ashita Diet Shimasenka?”. Seisi Hall tertawa melihat video tersebut.

Saat lampu dimatikan, jantung gue berhenti sesaat. Ini dia momen yang gue tunggu. Musik dengan permainan drum yang kencang membuka acara, diiringi suara “what are you waiting for?“, dilanjutkan dengan member flumpool keluar dengan menggunakan hakama*.
Hakama: sejenis yukata atau pakaian tradisional Jepang yang biasa dikenakan laki-laki.

FREE YOUR MIND menjadi lagu pembuka, dan beberapa lagu dari album EGG mengikuti setelahnya. Ada juga lagu lama seperti Kimi wo Tsurete dan Touch (sukaaaaa sewaktu satu Hall ikut menyanyikan “I touch you, you touch me“). Yang buat gue bersyukur dengan tempat duduk gue adalah, Kazuki sering sekali menghampiri kami selagi bermain gitar. Jauh lebih dekat dari sejarah gue menonton konser flumpool apapun, termasuk di Singapura yang bisa dibilang venue kecil. Bahagia~

Setelah flumpool menaikkan tensi penonton dengan Hana ni Nare, mereka pindah dari panggung utama ke panggung kecil di tengah Hall. Saat mereka membawakan MW, penonton di sebelah gue berucap, “yappari mukashi no kyoku ii yo na.” Setuju, Mbak!

Dan gue paling suka suasana Hydrangea di Jepang. Tidak ada yang bisa mengalahkan perform ini. Meski Hydrangea juga dinyanyikan di konser Singapura, feeling-nya jauh berbeda.

Kemudian, dilanjutkan Mirai. Yamamura Ryuta bermain piano, seperti sewaktu tur fanclub sebelum Natal lalu yang disiarkan live untuk member INTERROBANG. Dan gue hampir kehilangan napas melihat jari-jari indah itu di atas tuts piano.

flumpool kembali ke panggung utama. Lagu baru mereka, Last Call, yang menjadi OST film (Nomura) Shuhei berjudul Sakurada Reset, juga masuk ke dalam setlist. Lumayan bagus, walau saat itu gue masih belum bisa suka dengan lagunya, dan entah mengapa, cuplikan Last Call di teaser Sakurada Reset terdengar lebih indah. Haha, Ryuta, maaf ya.

Konser dilanjutkan dengan lagu dari album EGG lagi, dan tensi kembali naik saat flumpool membawakan Hoshi ni Negai wo. Setelah lagu tersebut, mereka memulai perhitungan mundur tahun baru, dan SELAMAT TAHUN BARU 2017!

Lagu pertama di 2017 adalah Kimi ni Todoke, dan gue harus bilang bahwa. Lagu ini. Favorit. Gue. di Countdown. Karena!!! Selama lebih dari separuh lagu, Ryuta ada di sayap panggung yang persis di depan mata gue! Terlebih lagi, setiap Kimi ni Todoke, Ryuta kan selalu reaching penonton gitu, ya. Dan ini di depan mata gue persis. Seolah gue tinggal menjulurkan tangan gue dan rela terhisap ke dalam lembah neraka atas kesempurnaan dari eksistensi manusia bernama Yamamura Ryuta. Ok, gue akui gue lebay.

Saat mereka di belakang panggung dan bersiap untuk encore, staf menayangkan video mereka berjalan dengan kaos konser melalui layar di kanan-kiri panggung. Lucu! Saat teriakan penonton kurang kencang, mereka putar balik seolah menolak untuk menyanyi lagi.

Encore dimulai dengan Taisetsuna Mono wa Kimi Igai Miataranakute, yang dinyanyikan di panggung tambahan yang terletak di ujung Hall, agar penonton yang duduk di kursi terjauh dari panggung utama juga dapat melihat mereka dengan jelas. Seperti biasa, lagu ini, terutama saat Ryuta meminta penonton menyanyikan reff bersama-sama dan diulang beberaa kali, selalu membuat air mata jatuh. Usai lagu, mereka berjalan kembali ke panggung utama melewati penonton.

MY HOME TOWN menutup konser dengan video mereka berkumpul di Stasiun Tennoji, lalu naik kereta menuju Osaka Jo Kouen, dan melakukan street performance seperti yang biasa mereka lakukan dulu sebelum debut. Terharu T___T

Oh ya, sewaktu mereka dadah-dadah sebelum meninggalkan panggung, saat mereka menghampiri sisi panggung depan kursi gue, perut Seiji yang sangat sangat sangat putih mengintip. Hihi. Pemandangan indah. Walau terakhir ia membuka kaos (seperti biasa) dan melemparkannya ke penonton, kulit mengintip itu lebih menggoda daripada yang memang diperlihatkan.

Setelah keluar Hall, gue sempat bertemu dengan Wicha dan Pat lagi, karena sebelumnya gue meminta Wicha mengambilkan gue confetti saat tahun berganti yang hanya disemburkan ke area Arena (Wicha duduk di Arena). Kemudian, gue dan rombongan Rika-san foto-foto di baliho besar yang baru dipasang setelah pergantian tahun.

IMG_7550

Rombongan Rika-san mengajak untuk melihat matahari terbit pertama di tahun baru di Matsubara, tapi gue memutuskan pulang karena harus berangkat pagi untuk pulang ke Jakarta. Dan gue naik taksi lagi. Supirnya bapak-bapak kolot, tidak mau pakai GPS, dan marah-marah sama gue karena alamat apartemen Ojou yang gue sebut tidak jelas (buat dia), jadi gue bilang nanti dari Honmachi gue akan tunjukkan jalan.

Sampai di apartemen, gue berendam. Saat itu, gue baru menyadari lutut dan mata kaki kiri gue lebam dan bengkak sewaktu jatuh di tangga di Jo Hall tadi, dan mulai terasa nyeri. Untung mandi air hangat sedikit mengobati. Setelah mandi, gue packing. Gue merasa sangat bodoh membeli senbei banyak karena bungkusnya besar dan gue lupa kalau gue tidak punya tempat di koper yang sudah penuh dengan goodies-goodies konser. Akhirnya, gue membungkus semua senbei dengan plastik, dan memutuskan untuk tidak membawa pulang senbei setelah mengirim pesan untuk izin ke Ojou.

Sebelum tidur, gue makan dengan teri kacang buatan Mama supaya bisa mengganjal perut besok pagi karena gue yakin gue yang kebo ini tidak akan sempat sarapan. Gue baru tidur sekitar jam tiga. Tidur paling sebentar selama liburan musim dingin gue.


[2017.01.01] Day 9 – Pulang

Slide11

Gue meninggalkan apartemen Ojou jam setengah tujuh, naik taksi sampai Stasiun Nankai Namba. Niat hanya akan naik kereta ekspress bandara, ternyata kursi sudah penuh dan gue harus naik Rapi:t yang lebih mahal dan harus beli tiket tambahan (walau lebih cepat). Untungnya, gue masih ada pecahan 1000 yen saat itu.

IMG_7562

Bye, Osaka!

Sampai di bandara, gue check-in, tapi ternyata bagasi gue di atas 20 kg. Gue mengeluarkan beberapa baju dari koper kecil, kemudian memasukkannya ke dalam tas travel lipat. Niat awal hanya mau membawa tas kecil selama di pesawat. Tapi, ya.. Mau diapakan lagi. Sekarang harus menenteng tas tambahan. Oh ya, mungkin gue belum bilang, dan ini sekalian menjadi  Mitla’s Trip Tips #10! Gue berangkat dengan 1 koper besar yang di dalamnya diisi koper kecil yang berisi baju, dan tas travel lipat yang berisi makanan titipan Ojou. Tas travel lipat gue pakai saat pergi ke Nagoya dan Tokyo; dan saat pulang, gue bisa membawa barang lebih banyak karena ada 2 koper! Jadi, kalau bisa, kalian harus selalu sedia tas lipat untuk berjaga-jaga, dan kalau punya koper besar, kalian bisa memasukkan koper kecil ke dalam koper besar supaya saat pulang, kalian bisa membawa barang lebih banyak 🙂

IMG_7563

Di dalam pesawat, gue sudah meniatkan diri akan makan McD di Kuala Lumpur nanti, karena waktu transit gue lumayan lama. Tapi, gue kelaparan di atas langit, dan berakhir dengan membeli makanan pesawat. Karena gue tidak punya Ringgit dan Yen gue hanya tersisa pecahan 5000 dan 10,000, sementara kalau gue bayar dengan Yen, kembalian yang gue terima adalah Ringgit, gue membayar dengan kartu kredit. Makanan AirAsia lumayan enak. Sampai di KL, gue kesal karena masih kenyang. Padahal gue ngidam ayam. Huhuhu.

IMG_7564

Gue hanya duduk-duduk main twitter sambil charge HP di lounge KLIA, tidak bisa tidur dan malas jalan-jalan karena kaki gue sakit. Gara-gara jatuh sewaktu konser flumpool, gue jadi agak pincang.

Singkat cerita, karena kegiatan gue menunggu pesawat ke Jakarta juga tidak menarik, pesawat sempat delay sekitar satu jam, gue sampai Jakarta sekitar jam setengah dua, menunggu bagasi lumayan lama, keluar bandara dan bertemu Papa yang menjemput sekitar jam 2an.

Jakarta, I am home!
Japan, thank you for a wonderful way to end my 2016!

JKT


COST COUNT

Rencana pengeluaran Mitla:
rencana_pengeluaranKurs ¥‎1 yen = Rp 115 (sesuai dengan kurs beli saat gue menukar uang sebelum trip ini)

Aktual:
aktual

Kalau dilihat, gue hanya mengeluarkan uang ¥‎88,606 dari perencanaan awal ¥‎108,283 yang artinya gue menghemat hampir ¥‎20,000!

Siapa tahu perhitungan pengeluaran gue bisa berguna untuk yang juga mau pergi ke beberapa kota di Jepang untuk menonton beberapa konser.

Btw, gue sangat merekomendasikan JR Pass bila kalian ingin pergi ke beberapa kota dengan cepat. Karena, misal gue pergi tanpa JR Pass, kira-kira ongkos yang akan gue keluarkan:

Shin-Osaka – Nagoya ¥‎6,350
Nagoya – Shin-Osaka ¥‎6,350
Shin-Osaka – Tokyo ¥‎14,450
Tokyo – Yokohama ¥‎470
Yokohama – Minami Senju ¥‎640
Tokyo – Shin-Osaka ¥‎13,620 (lebih murah karena Jiyuu Seki)
Osaka – Himeji ¥‎1,490
Himeji – Kyoto ¥‎2,270
Kyoto – Osaka ¥‎600
TOTAL ¥‎46,240
Belum termasuk kereta JR dalam kota yang gue naiki.

Sementara harga JR Pass yang bisa dipakai selama 7 hari hanya ¥‎29,110, dan bisa dipakai untuk Shinkansen, kereta JR (bukan subway atau metro), dan bus JR.

Jadi, kesimpulan dari cost count ini adalah:
Mitla’s Trip Tips #11 – Catat setiap pengeluaran agar bisa menghemat walau cuma Rp 100; dan
Mitla’s Trip Tips #12 – Gunakan JR Pass bila ingin mengunjungi berbagai kota di Jepang dengan waktu yang terbatas!

Terakhir, Mitla’s Trip Tips #13 – Khusus untuk kalian yang ingin mengunjungi beberapa kota dengan waktu terbatas, buat jadwal perjalanan lengkap beserta jadwal kereta atau Shinkansen, karena jadwal tersebut akan sangat membantu kalian untuk dapat mengunjungi semua tempat yang ingin kalian datangi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s