Japan Winter Trip – [2016.12.29-30] Day 6 & 7 (Tokyo, Himeji, Kyoto)

[2016.12.29] Day 6 – Tokyo

slide8

Sebelumnya, akan gue jelaskan siapa GEN.

GEN itu salah satu fans Jepang dari (Nomura) Shuhei yang terkenal karena: (1) dia cowok, dan (2) dia super update mengenai info terbaru dari sang artis. Gue suka QT tweet info Shuhei terbaru dia dengan terjemahan Inggris, sampai suatu hari, ada informasi yang gue tidak mengerti dan gue bertanya padanya pakai Bahasa Jepang. Dia kaget, karena biasanya gue hanya pakai Bahasa Inggris. Bermula dari situ, gue dan GEN sering mengobrol, bahkan dia follow back gue. Puncaknya adalah bulan November saat Shuhei ke Jakarta untuk opening JFF 2016. Gue dan GEN sampai bertukar ID LINE dan merencanakan bertemu saat winter trip gue ini, dan gue minta diantar keliling tempat-tempat yang berhubungan dengan Shuhei, khususnya WBASE.

Awalnya, gue juga berniat menyelipkan konser Year End Party di Tsutaya O-Creast karena LOCAL CONNECT tampil. Tetapi, karena bingung juga bagaimana memanfaatkan waktu berhubung gue tidak tahu LOCAL CONNECT tampil urutan keberapa, dan malas ikut dari awal karena konser dimulai jam 12, terlalu pagi dan gue tidak tahu artis-artis yang tampil selain LOCAL CONNECT. Lebih baik gue ngedate seharian dengan GEN-san, hihihi.

Gue bangun sekitar jam 8, bangun terpagi selama liburan kali ini. Setelah mandi, gue mengecek HP dan ada chat dari GEN, bertanya apakah gue sudah bangun, karena dia baru saja berangkat menuju hotel gue.

Setelah dandan dan packing, sekitar jam 9.45, GEN bilang kalau dia sudah sampai dan menunggu di bawah. Sasuga Nihonjin! Gue segera turun ke bawah, check out, lalu keluar hotel dan menyapa GEN. Pengalaman pertama kali bertemu dengan lawan jenis yang kenalan lewat media sosial, berdua saja.

GEN menawarkan membawa tas baju gue, dan dia bilang, “Gue pikir lo bakal bawa koper super gede, sampai gue bingung nanti kalau beneran lo bawa koper sebesar itu, nanti kopernya akan kita apakan.” Kemudian, GEN memberi tahu itinerary kami hari itu: pertama, kami akan ke taman tempat Shuhei sering bermain skateboard, lalu tempat-tempat lainnya di Shibuya (Shuhei anak Shibuya!). Meski hotel gue dekat dengan Shibuya, taman tsb letaknya lumayan jauh dan hanya tempat itu saja yang tidak dekat satu sama lain. Jadi, taman jauh, lalu keliling Shibuya.

Kami naik kereta dari Minami Senju, menuju entah stasiun apa karena gue lupa tempatnya, dan dari sana, kami naik bus menuju taman yang karena gue tidak tahu namanya, mari kita sebut saja itu “taman jauh“.
[Penyakit Mitla: tidak pernah memperhatikan jalan saat diantar orang lain.]

Sepanjang jalan, GEN banyak bertanya pada gue, seperti: apakah ada makanan yang tidak boleh orang Indonesia makan (gue menjawab babi), bukankan di Indonesia lebih populer artis Korea daripada Jepang (gue mengiyakan dengan alasan orang Indonesia suka wajah yang cantik), kenapa bisa tertarik dengan Jepang (gue cerita tentang pertemuan gue dan Ryo lewat 1 Litre of Tears), dan mengapa gue bisa Bahasa Jepang (gue bilang gue kuliah Sastra Jepang). GEN juga cerita tentang fans Shuhei yang dia kenal juga dari twitter, yang ternyata tidak bisa berbicara Bahasa Jepang sama sekali saat mereka bertemu, dan menyebabkan mereka harus berkomunikasi lewat chat (orang tsb hanya bisa Bahasa Jepang tulisan); atau tentang betapa lemahnya kemampuan Bahasa Inggris GEN, yang bahkan, saat dia menonton konser X JAPAN di New York pun, dia benar-benar hanya mengandalkan bahasa tubuh.

Kami sampai di taman jauh. Taman tersebut merupakan salah satu tempat yang menjadi latar pemotretan photobook pertama Shuhei. GEN menceritakan Shuhei sering makan di salah satu kios di sana, dan Shuhei juga sering mengajak anjingnya jalan-jalan ke taman ini; atau tentang Shuhei jarang lupa dengan fansnya, jadi kalau kami bertemu dia di sini, GEN yakin Shuhei akan ingat dengan gue.

img_7356

Taman jauh!

img_7358

Latar pemotretan photobook

img_7361

Kios tempat Shuhei sering makan

Agak jauh berjalan ke dalam taman (note: taman ini sangat luas sekali), kami tiba di tempat Shuhei sering bermain skateboard. Rasanya familiar karena sering melihat tempat ini di Instagram Shuhei! Di sana, banyak orang yang bermain skateboard, sepatu roda, atau BMX; dari anak-anak sampai orang dewasa. Saking terpesonanya, kami sempat berpikir untuk meminjam sepeda atau skateboard untuk ikutan main!

img_7362

img_7363

Setelah puas melihat mereka bermain, gue dan GEN berjalan kaki ke stasiun untuk menuju Shibuya. Sambil berjalan, gue bercerita tentang bagaimana amannya Jepang dan betapa tidak amannya Jakarta karena banyak pencopet. GEN sempat bertanya apakah gue mau ke kantor Amuse, dan gue dengan antusias menjawab ya. Awalnya dia kaget, karena dia pikir gue tidak mau. Jadi, tujuan berikutnya setelah kami sampai di Shibuya adalah Amuse! Sepertinya GEN baru menyadari alasan gue mau ke Amuse bukan hanya karena Shuhei setelah melihat gue heboh karena ada poster flumpool dan Nanimono terpajang, hahaha.

This slideshow requires JavaScript.

Karena sudah jam makan siang, usai dari Amuse, kami berdiskusi akan makan apa, dan tiba pada kesepakatan makan Okonomiyaki Hiroshima (berbeda dengan Okonomiyaki Osaka) karena Hiroshima kampung halaman GEN. Ada restoran Okonomiyaki Hiroshima di sekitar Shibuya dan kami beranjak ke sana.

Kami mengobrol banyak tentang Shuhei sambil makan siang. GEN bercerita awal mula ia bisa menjadi fans Shuhei: GEN sangat suka fashion dan melihat Shuhei menjadi model di suatu majalah. Sejak saat itu, GEN sering membeli baju, sepatu, topi yang sering Shuhei pakai atau iklankan karena menurutnya, style Shuhei itu bagus. Bahkan, topi, baju, celana, seaptu, dan jaket yang ia pakai hari itu semua hasil kopian style Shuhei! Hanya saja, karena postur GEN yang kecil, terkadang biaya mengecilkan baju yang ia beli lebih mahal daripada harga baju itu sendiri.

Usai makan, kami pergi ke taman lain tempat Shuhei sering bermain skateboard (yang ternyata tutup karena ada pembangunan di sekitar sana), dan ke Mekah-nya fans Shuhei, WBASE! WBASE adalah toko BMX yang sangat sangat sangat sering dikunjungi Shuhei. Hampir semua fans bocah ini tahu eksistensi WBASE. Walaupun beberapa hari yang lalu GEN sudah memberi tahu gue bahwa toko ini libur di tanggal 29 Desember, gue tetap mau pergi melihat.

img_7384

Shuhei juga sering bermain skateboard di sini

img_7389

WBASE

img_7390

Berikutnya, kami mengunjungi toko-toko distro yang sering Shuhei kunjungi, atau lebih tepatnya.. menemani GEN berbelanja, karena dia yang heboh sendiri saat memilih-milih baju atau jaket atau topi! Saat GEN membayar topi yang ia beli (karena Shuhei pernah pakai topi yang sama), kasir sempat bertanya apakah gue pacarnya, dan kami hening sejenak sampai ia menjawab, “Iie, tomodachi desu,” dan diiringi tawa awkward dari Mbak Kasir.

List tempat-tempat yang sering dikunjungi Shuhei sudah habis, dan GEN bertanya apakah ada tempat di Tokyo yang ingin gue kunjungi; dan saat itu yang terlintas dari ingatan gue adalah betapa inginnya gue pergi ke toko buku tempat flumpool syuting PV Toaru Hajimari no Jokei. Dan kami segera meluncur ke sana, karena toko buku tersebut hanya berjarak satu stasiun dari Shibuya.

Gue sangat heboh.. gue ulangi, gue s a n g a t heboh sedetik setelah kami sampai di Tsutaya Daikanyama. Dari depan pintu toko buku pun gue sudah loncat-loncat kegirangan. GEN membantu mencarikan spot-spot yang keluar di PV, sambil menonton videonya di YouTube berulang-ulang. Gue bahagia sampai mau menangis karena GEN baik sekali T__T

Karena gue sama sekali tidak pernah minta difoto atau selfie sepanjang kami keliling Shibuya dan toko buku ini, GEN dengan heran bertanya mengapa gue tidak mau difoto. Gue jawab, gue tidak begitu suka difoto, tapi kalau di toko buku ini, gue mau pose serupa dengan Ryuta di cover FOUR ROOMS.

four-rooms

Cover FOUR ROOMS

Sayangnya, walau kami sudah mutar-mutar seisi Tsutaya, lokasi Ryuta berdiri dengan latar rak buku tinggi menyentuh langit-langit tidak ketemu. GEN juga sudah bertanya pada petugas toko, tapi jawabannya hanya mungkin sususan toko sudah berubah. Tsutaya Daikanyama ini terdiri dari 3 bangunan, yang terhubung satu sama lain lewat jembatan di lantai 2. Kami menyusuri lantai 1 tiap bangunan, naik ke lantai 2, lalu berpindah ke lantai 2 bangunan sebelah, dan putus asa. Sampai pada akhirnya.. ketika kami turun tangga, kami langsung berada di ruangan tempat Ryuta berpose untuk cover FOUR ROOMS.

GEN heboh karena senang. Gue apalagi.

Kami menunggu beberapa saat sampai blok rak buku tersebut masih ramai orang. Sambil menunggu, kebetulan di samping blok tersebut terdapat rak novel fantasi, gue mengambil 1Q84-nya Murakami Haruki dan merekomendasikannya ke GEN.

img_7432

Akhirnya gue mau difoto!

Setelah gue puas, dan jujur gue puas banget karena akhirnya bisa ke Tsutaya ini (waktu gue ke Tokyo tahun 2015, gue tidak sempat ke sini), sekitar jam 5an, kami memutuskan untuk mengakhiri petualangan kami, berhubung gue harus menempuh 3 jam perjalanan kembali ke Osaka naik Shinkansen, dan GEN ada janji jam 6. GEN memberikan gue stiker dari brand yang sering dipakai Shuhei dan WBASE.

Kami berpisah di Stasiun Daikanyama dan gue berangkat ke Stasiun Tokyo sendiri. Sampai Stasiun Tokyo, gue langsung mengantri tiket, tapi karena ternyata reserved seat sudah penuh semua, gue langsung masuk peron dan lari ke gerbong 1-5 (gerbong khusus jiyuu seki*) dan berdoa dalam hati supaya dapat tempat duduk. Gue menyesal mengapa tidak memesan kursi untuk kereta pulang saat gue sampai pertama kali di Tokyo, padahal gue tahu tanggal 29 Desember adalah hari terakhir kerja di tahun 2016 untuk mayoritas kantor di Jepang. Otomatis, Shinkansen akan penuh orang-orang yang pulang kampung.
* Jiyuu Seki: kursi tanpa pemesanan di awal. Kalian bebas duduk di mana saja bila kalian membeli tiket Shinkansen dengan kursi jiyuu seki. Harga lebih murah, tetapi, bila ternyata kursi di gerbong jiyuu seki sudah penuh, kalian harus berdiri sampai dapat tempat duduk (atau sampai tempat tujuan kalian bila kereta masih penuh).
◊ Mitla’s Trip Tips #9 – Kalau kalian berpergian dengan Shinkansen dan yakin akan ketepatan jadwal kalian, sebaiknya kalian langsung membeli tiket (atau memesan kursi, jika kalian memakai JR Pass) untuk semua kereta yang akan kalian naiki; karena loket pembelian tiket Shinkansen juga tersedia untuk keberangkatan advance, bukan hanya keberangkatan hari itu; agar mempermudah perjalanan. Tapi, bila kalian tidak yakin dengan ketepatan jadwal kalian, sayang kursi yang sudah kalian pilih bila tidak ditempati (atau beli, bila kalian tidak memakai JR Pass).

Gue naik Shinkansen jam 18.33 dan untungnya, gue dapat kursi dan untungnya lagi, gue dapat kursi di sebelah jendela. Tidak beruntungnya, kursi di jiyuu seki tidak memili colokan, jadi gue mematikan HP untuk menghemat batere; dan.. tidur!

Gue bangun kira-kira saat sampai Nagoya, dan bertanya pada Ojou apakah di apartemennya ada makanan karena gue sangat lapar. Ojou saat itu sedang main dengan temannya, dan bilang tidak masak nasi. Gue sempat berpikir untuk masak nasi sendiri karena ada teri-kacang buatan Mama, tapi begitu sampai di Shin-Osaka, gue sangat capek dan tidak mau menunggu lagi untuk makan, jadi gue beli bento di konbini, dan langsung meluncur ke apartemen.

Sampai di apartemen, gue langsung makan di kegelapan! Setelah kenyang, gue baru menyalakan lampu dan heater, mandi, lalu menonton TV sambil menunggu Ojou pulang.

Ojou pulang sekitar jam 12, dan kami membicarakan rencana ke Himeji besok. Sebenarnya, gue bermaksud untuk keliling Matsubara di tanggal 30 Desember, tapi karena gue juga belum jalan-jalan dengan Ojou sejak hari pertama, gue merelakan naik haji versi fans flumpool gue demi menghabiskan waktu bersama mentor gue saat ospek dulu. Toh, gue juga belum pernah ke Himeji. Rencananya, kami akan memasak osechi* di rumah nenek Missy, teman Ojou (orang Jepang, kok!).
*Osechi: makanan khas tahun baru Jepang.

Kami tidur sekitar jam 2 lewat, padahal sebelumnya kami berencana untuk bangun pagi agar dapat berangkat jam 9. Sekali lagi, rencana hanya akan berakhir rencana.


[2016.12.30] Day 7 – Himeji & Kyoto

slide9

Seperti yang sudah gue jelaskan sebelumnya, gue tidak jadi ke Matsubara, dan beralih pergi ke Himeji bersama Ojou, dilanjutkan dengan makan malam dengan Kana dan Lita di Kyoto sesuai dengan perjanjian kami tanggal 26 Desember kemarin.

Niat bangun pagi, gue dan Ojou baru bangun sekitar jam 8. Ojou masak nasi goreng untuk sarapan, dan kami segera mandi setelah makan. Sambil menertawakan diri sendiri yang bangun kesiangan, kami akhirnya berangkat sekitar jam 10 kurang, dengan jaket tebal karena menurut ramalan cuaca, Himeji akan bersuhu 1 derajat.

Kami naik JR Express dari Stasiun Osaka, yang kira-kira memakan waktu sekitar 1 jam sampai Himeji. Tiba di Stasiun Himeji, kami keluar dari pintu yang berlawanan dan menunggu di halte bus yang salah. Setelah Ojou menghubungi Missy untuk memastikan, kami berlari menuju arah sebaliknya dan akhirnya menemukan halte bus yang benar. Karena bus di Himeji hanya datang sekitar 30 menit atau 1 jam sekali dan kami sudah tertinggal bus 10.55, kami pergi untuk beli kopi panas (tujuan awal adalah untuk menghangatkan tangan yang sudah hampir beku), dan naik bus pukul 11.33.

Entah ada hubungan apa antara gue dengan 7 Eleven, kami berhenti di halte dekat rumah nenek Missy.. yang tepat berada di depan 7 Eleven besar; dan Missy menunggu kami di sana. Dari Sevel, kami berjalan kaki sekitar 5 menit, dan akhirnya tiba di rumah.

Rumah nenek Missy bergaya khas rumah Jepang; dengan tatami dan pintu geser. Kami berkenalan dengan Kakek, Nenek, juga adik laki-laki Missy (yang jujur, manis banget!). Ojou berbisik kepada gue, merasa bersalah karena lupa membawa oleh-oleh. Dan walaupun tujuan kami datang adalah untuk memasak osechi, karena berbagai hal, rencana masak dibatalkan, dan kami malah numpang makan siang.

Sehabis makan, dengan perut begah, kami mengobrol (baca: basa-basi ga jelas karena tidak tahu mau bicara apa) dengan Kakek dan adik Missy, karena Missy sibuk dengan telepon membicarakan permasalahan osechi, dan Nenek sedang membersihkan dapur. Kakek menanyakan kami di mana letak Indonesia dan apa bahasa nasional Indonesia. Di sela-sela telepon, Missy memberi tahu kalau adiknya jago menggambar, dan meminta si Adik untuk menunjukkan buku gambarnya. Gue yang memang suka dengan lukisan, langsung terkagum-kagum melihat gambar di setiap halaman. Bagus sekali!

Mari kita bahas lebih lanjut mengenai adik Missy yang membuat gue lemah dengan kemampuan menggambarnya (di samping penampilannya yang manis). Setelah mengobrol lebih lanjut (akhirnya ada topik pembicaraan), ternyata dia masih 18 tahun dan sekarang kelas 3 SMA. Berniat melanjutkan kuliah di Aichi dan mengambil jurusan seni. Selain menunjukkan sketsa dari buku gambar, adik Missy juga menunjukkan beberapa gambar digital dari akun twitter dan pixiv-nya. Gue bilang ke Ojou kalau gue jadi kepingin digambar, dan Ojou malah bilang ke si Adik; yang ternyata dengan senang hati menggambar gue.

img_7449

Sketsa gue yang diselesaikan hanya dalam 15 menit

Kami jadi banyak bertanya tentang bagaimana cara menggambar sketsa atau digital. Gue bahkan ikut menunjukkan beberapa karya gue (yang gue post di sini). Sambil mengobrol, kami memakan biskuit tahun baru, dan adik Missy juga menggambar Ojou. Selain membicarakan kemampuan menggambar si Adik (gue menyesal tidak tanya namanya), kami dibuat terkagum dengan mesin jahit Nenek, yang berumur 50 tahun lebih, tapi kondisinya masih sangat bagus.

img_7453

Kue tahun baru: 2017 – tahun ayam

Mengingat jadwal kedatangan bus yang jarang, Missy bertanya pada kami mau pulang jam berapa. Karena kami (Ojou mau ikut) harus ke Kyoto, kami berencana pulang jam setengah 5, demi mengejar kereta ke Kyoto (butuh 2 jam naik JR Express dari Himeji) jam setengah 6. Setelah berfoto bersama di depan rumah, Missy dan adiknya mengantar kami sampai halte, dan menemani menunggu hingga bus datang. Pemandangan Himeji saat kami keluar rumah sangat indah, tepat saat langit berubah oranye. Gue sempat berhenti beberapa kali untuk mengambil foto, yang ternyata berujung dengan adik Missy menghampiri gue, meminta untuk ditunjukkan foto yang gue ambil, dan kami mengobrol lagi. Seperti gue yang memberi tahu dia kalau gue suka langit oranye, dia suka tiang listrik karena menurutnya sangat Jepang. Atau, apa yang terakhir gue gambar, yang gue jawab dengan desain kaos SFC. Atau, apa pekerjaan gue berkaitan dengan menggambar, dan gue bilang tidak, karena gambar hanya iseng. Gue ga akan bohong, kok, gue girang.

img_7458

Sialnya, yang harusnya bus datang jam 4.33 ternyata terlambat datang hingga hampir satu jam! Kami kedinginan menunggu. Gue juga kasihan dengan adik Missy yang tidak memakai jaket. Gue sempat bertanya, memangnya dia tidak kedinginan. Awalnya, dia bilang tidak; lama-lama menyerah dan bilang dingin. Tapi, nilai plusnya, gue jadi mengobrol makin banyak dengan si Adik. Saat dia menunjukkan gambar-gambar di twitter, gue sempat menghapalkan username akunnya, supaya bisa gue stalk kemudian. Tapi ternyata ujung-ujungnya gue lupa 😦

Dek, Kakak mau bertemu lagi 😦
[Geli, ya. Gue nulisnya juga geli, kok.]

Kira-kira puku 5 lewat, bus datang dan kami langsung naik setelah berpamitan dengan Missy dan adiknya. Karena bus termbat, otomatis kami harus mencari jadwal kereta berikutnya ke Kyoto. Saat itu, kereta cuma ada jam 18.10, yang membuat kami lari-lari mengejar kereta setelah turun bus, yang akan sampai di Kyoto jam 20.10, atau terlambat 10 menit dari perjanjian awal: jam 8 malam di Stasiun Kyoto.

Di dalam kereta, kami yang rencana awal mau tidur karena lelah, malah mengobrol seru. Tentang bagaimana Ojou bisa kerja di Jepang, tentang gue dan kerjaan di kantor, dsb. Tiba-tiba Ojou mengingatkan kalau kami belum foto berdua sama sekali, sehingga kami langsung selfie.

img_7464

Sampai di Stasiun Kyoto, gue langsung menghubungi Lita dan Kana, dan kami bertemu di depan stasiun. Gue baru tahu saat itu kalau Lita potong rambut! Karena suhu yang dingin, kami langsung kabur ke Ayam-ya, restoran ramen halal.

Setelah memesan, pelayan restoran bertanya apakah kami mau porsi besar. Semua menjawab ya, kecuali gue, yang selalu makan dengan porsi sedikit. Kana, yang memesan spicy ramen karena penasaran, ternyata kepedasan sampai mau menangis, haha. Lita juga berkeringat. Ojou.. sudah biasa. Kalau buat gue, ramennya memang pedas, tapi pedas lada, sehingga meninggalkan rasa tidak enak di kerongkongan. Dan meskipun gue sudah memesan porsi normal, ramen gue tetap tidak habis. Untung ada Lita yang menghabiskan!

img_7465

Karena masih banyak orang yang mengantri untuk makan, kami langsung keluar restoran begitu makanan kami habis. Kami kembali ke Stasiun Kyoto karena gue dan Ojou akan kembali ke Osaka dengan kereta dari sana, dan Kana dan Lita juga parkir sepeda (atau motor?) di sekitar stasiun. Setelah mengobrol beberapa saat, dan pertukaran kontak LINE antara Kana dan Ojou, kami berpisah. Gue dan Ojou pulang ke Osaka.

img_7469

Kyoto Tower di depan Stasiun Kyoto

Sampai di Osaka, bukan berarti kami langsung pulang ke apartemen. Kami karaoke dulu 2 jam di Shinsaibashi! Gue langsung memilih lagu-lagu Jepang yang tidak dapat gue nyanyikan di Jakarta. Karaoke Jepang memang mahal, sih, gue bayar 2400an yen. Tapi namanya juga kepingin, mau diapakan lagi, hihihi. Enaknya, karaoke di Jepang dapat minum, jadi gue minum sepuas hati.

Jam 1 lewat, kami berjalan pulang seperti orang mabuk. Lari-lari kecil karena kedinginan. Tapi, bila dibandingkan dengan Himeji, Osaka saat itu terasa sangat hangat walau kenyataannya, suhu hanya 2 derajat. Kami sempat mampir konbini untuk membeli garam mandi, karena kami berniat untuk berendam air panas saat sampai apartemen nanti. Begitu sampai, kami berendam (bergantian), dan langsung tidur karena sudah terlalu lelah XD

Hari ketujuh di Jepang, dan Mitla diajarkan Ojou menjadi anak malam Osaka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s