Japan Winter Trip – [2016.12.27-28] Day 4 & 5 (Yokohama & Tokyo)

[2016.12.27] Day 4 – Yokohama

slide6

Hari diawali dengan gue (yang lagi-lagi) mengantar kepergian Ojou kerja dari tempat tidur. Ojou sudah mengingatkan kalau hari itu hujan, jadi kalau gue mau keluar, jangan lupa bawa payung. Karena kaki gue masih luar biasa pegal, gue malas beres-beres kebutuhan untuk 3 hari di Tokyo. Bangun saja malas.

Teman CUC gue, yang tadinya rencana main dengan gue tanggal 28, berubah rencana akan menemani gue keliling Yokohama; dan karena berbagai hal, yang bisa pergi hanya Yoshi dan Nancy. Mereka bertanya kapan gue akan sampai Stasiun Tokyo. Perkiraan kalau gue naik Shinkansen jam 10.40, gue akan sampai jam 13.40.

Yang ternyata gue akhirnya naik Shinkansen jam 11.16.

Waktu habis buat gue galau mau bawa apa ke Tokyo. Tas biasa atau koper kecil (yang berakhir dengan tas biasa). Pakai sepatu kets atau boots (yang berakhir dengan kets karena kaki masih pegal). Lalu packing yang tidak kunjung usai. Lalu dandan dan mengutuk diri sendiri yang lupa beli lotion karena wajah sudah terlalu kering tertimpa angin musim dingin. Lalu sarapan karena lapar. Lalu memastikan tiket MOS gue tidak terlupa, juga oleh-oleh untuk Yoshi, Nancy, dan GEN. Lalu jalan pelan-pelan karena hujan. Bahkan payung pun gue ga modal, pinjam payung bening punya Ojou.

Karena gue naik Shinkansen telat dari perkiraan jadwal, gue mengabarkan Yoshi kalau akan sampai jam 14.16. Maaf ya, budaya Indonesia (aka telat)-nya masih ikut, hihihi.

Di kereta, karena sudah sarapan sebelum berangkat, gue full tidur. Kira-kira sampai Shizuoka (sekitar 2 jam perjalanan dari Shin-Osaka), gue bangun dan tidak bisa tidur lagi. Ada petugas kereta lewat, gue beli kopi. Lumayan, dopping biar segar.

Akhirnya sampai di Stasiun Tokyo. Setelah bertemu denga Yoshi dan Nancy, kami langsung cusss ke peron kereta JR (yang biasa) arah Yokohama supaya tidak buang-buang waktu karena ternyata Nancy ada baito jam 6, di Chiba (gue langsung merasa bersalah gue telat T_T). Saat di kereta, gue baru menyadari betapa bodohnya gue, kenapa tidak janjian di Yokohama saja, kan lebih hemat waktu (jalur Shinkansen itu Stasiun Shin-Yokohama dulu, baru Stasiun Tokyo).

Btw, singkat cerita mengenai Yoshi dan Nancy. Gue kenalan dengan Yoshi bukan saat CUC jalan-jalan ke Indonesia, melainkan saat trip pertama gue ke Jepang. Waktu itu, saat gue ke Tokyo, Ryohei memperkenalkan Yoshi ke gue; warga negara Jepang tapi orangtuanya orang Indonesia yang migrasi ke sana. Kalau Nancy, ini pertama kalinya gue bertemu dia, tapi sebelumnya sudah dikenalkan Yoshi dan kami punya grup LINE untuk trip kali ini. Nancy ini half, ayahnya orang Jepang, ibunya orang Indonesia. Jadi, lucu kan, kami bertiga jalan-jalan, yang satu turis dari Indonesia, satu half Jepang-Indonesia, satu lagi orang Jepang keturunan Indonesia.

Saat mengobrol di kereta, Nancy komplain mengenai tangan gue yang kering. Katanya, pakai cream dong. Gue menyalahkan musim dingin karena biasanya tidak sekering ini, dan memantapkan niat akan membeli cream pulang nanti!

Sampai di Yokohama, sebelum naik kereta ke Yamashita Park, gue menaruh tas baju di coin locker, karena ganggu dan lumayan berat. Sedihnya, Nancy pamit karena harus baito, meski saat itu baru sekitar jam 3an, karena ternyata ada kecelakaan di antara Tokyo-Chiba, yang membuat dia takut terlambat. Padahal belum sempat main sama Nancy šŸ˜¦

Akhirnya, gue berdua dengan Yoshi, dan sampailah kami di Yamashita Park. Rencana awal adalah, mengunjungi semua tempat yang tertulis di itinerary gue, dari Minato no Mieru Oka (tempat terjauh), kami akan berjalan kaki ke Yamashita Park, lalu ke Osanbashi, dan terakhir ke Minato Mirai.

Destinasi pertama! Taman Minato no Mieru Oka. Kata Yoshi, masyarakat Jepang, bahkan penduduk Yokohama sudah jarang sekali mengunjungi tempat ini. Hampir semua yang ke sini adalah turis. Taman di Jepang dalam pikiran gue adalah taman yang super tertata, rapi, bunga-bunga yang bermekaran dan terawat; karena beberapa kali gue ke taman, dan semua tamannya seperti itu. Tapi, taman ini, bangunannya sudah hampir rubuh, bunga-bunga dan tiang-tiangnya juga seperti tidak terawat. Entah mengapa, justru gue merasa ini daya tariknya. Gue jauh lebih suka jalan-jalan ke taman seperti ini. Nuansa seninya lebih hidup!

Hanya satu yang gue tidak suka. Tangganya banyak. Gue pegel T___T

Oh ya, ternyata syuting Seven Days di taman ini! Gue hype sendiri saat melihat spot ini sampai Yoshi bingung, hahaha.

img_7232

img_7231

img_7229

Tempat syuting Seven Days

Suasana Yokohama sekitar tamanĀ Minato no Mieru Oka nyaman banget! Setelah puas berkeliling taman, kami berjalan menuju Yamashita Park dan melewati perumahan sekitar. Sumpah, nuansanya seperti komplek kelas atas yang sunyi tapi asri. Asik untuk lari pagi dan sore. Banyak bunga-bunga. Suka!

Sampai di destinasi kedua, Yamashita Park.

Kalau taman yang ini, baru benar-benar terawat bunganya! Taman bersebelahan langsung dengan laut, dan ada kapal Hikawa Maru yang juga merupakan salah satu target wisata.

img_7243

Hikawa Maru

img_7242

Banyak burung berenang!

img_7250

Karena angin laut yang luar biasa kencang, kami berdua kedinginan dan bermaksud mencari tempat untuk menghangatkan diri dan beristirahat. Yoshi juga sempat bertanya apakah mau mampir sebentar ke China Town sebelum ke Osanbashi karena lumayan dekat dari Yamashita Park. Jadi, kami minum kopi di kafe dekat China Town.

img_7252

Gate China Town

Lucunya, saat kami berjalan menuju Osanbashi dari China Town, kami mengobrol tentang cinta (asli, kalau diomongin begini rasanya geli). Yoshi cerita tentang pacarnya, dan bertanya tentang percintaan gue. Gue cerita tentang cowok yang sempat dekat sama gue, dan masalah di antara kami. Dan, momen ini yang tidak terlupakan. Yoshi dengan bijaknya bilang, “koi wa sagashi mon janai kara ne. Shicchau mon da ne. Ah! Watashi ii koto iutta!”, dan berakhir dengan kami tertawa tidak berhenti sepanjang jalan.

Ketika kami sampai di Osanbashi, gue baru menyadari bahwa Yokohama tidak ramah untuk gue di musim dingin. Yokohama yang gue kunjungi penuh laut, sehingga penuh angit laut, sehingga angin tambah dingin di musim dingin, sehingga gue beku. Tapi, pemandangannya indah banget, terutama untuk gue yang memang cinta dengan pemandangan kota di malam hari.

img_7262

Pemandangan Minato Mirai dari Osanbashi

Usai lelah kedinginan di Osanbashi, kami menuju Minato Mirai. Di Minato Mirai, ada gedung yang sangaaaat terkenal, Red Brick Warehouse; dan bianglala merah yang sangaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat terkenal, muncul di berbagai drama atau film, di taman bermain Cosmo World. Karena penasaran, kami naik bianglala tersebut. Ternyata harga tiketnya tidak semahal yang gue pikirkan! Awalnya gue pikir harganya sekitar 1500-2000 yen, berhubung tempat ini sangat terkenal. Ternyata hanya 800 yen.

img_7270

Red Brick Warehouse

img_7274

Cosmo World dari dekat

img_7310

Turun dari bianglala, kami lapar dan langsung ke mall terdekat untuk cari makan. Sempat bingung mau makan apa, karena mall yang kami kunjungi ini memang tempat makan dan penuh restoran. Pertama, kami memilih oden, ternyata restorannya penuh. Mau pilih yakiniku, tempatnya sepi sama sekali tidak ada pengunjung, jadi kami putar arah. Pilihan terakhir kami jatuh kepada kare, supaya gue yang tidak bisa makan makanan Jepang ini bisa makan, LOL.

Kare-nya enak! Telurnya halus, lembut, manis, dan rasa kare-nya sendiri pun super enak. Meski gue tetap tidak habis karena porsi makanan Jepang yang super banyak! Telur dan kare gue dihabiskan Yoshi, jadi yang tersisa hanya nasi sedikit.

img_7297

Illumination di depan mall

img_7309

Setelah kenyang, kami memutuskan untuk pulang karena sudah pukul 8 malam dan Yoshi butuh hampir 2 jam untuk pulang ke Chiba. Kami naik kereta dari Stasiun Minato Mirai ke Yokohama, dan sempat bingung dan lupa di mana coin locker tempat tas gue ditaruh. Mutar-mutar seisi stasiun, sambil melihat banyak homeless yang tidur di sana.

Dari Stasiun Yokohama, Yoshi mencocokkan rute kereta pulang agar bisa satu kereta dengan gue ke arah hotel, yang memilih naik JR karena pakai JR Pass. Sempat mengobrol beberapa hal lagi, sampai akhirnya gue harus ganti kereta di Stasiun Ueno ke Minami Senju, sementara Yoshi lanjut di kereta yang sama.

Sampai di Minami Senju, gue masih harus berjalan sekitar 1km ke hotel, dan sialnya, hujan. Untungnya, gue bawa payung karena saat berangkat tadi pagi dari Osaka juga hujan. Hujan ini juga menyebabkan pencapaian penting dalam hidup gue. Gue bisa napas keluar asap. Sejak hari pertama gue tiba di Jepang di musim dingin ini, baruk kali itu gue napas mengeluarkan asap! Gue heboh sendiri saat berjalan, padahal saat itu tangan gue sudah hampir mati rasa karena kedinginan.

Akhirnya gue tiba di hotel dan check-in. Karena capek dan kepingin cepat istirahat, gue malas pakai Bahasa Inggris, dan bertanya apakah bisa ganti kamar dengan kamar mandi di dalam karena saat booking, gue pesan dengan kamar mandi terpisah. Petugas minta maaf karena di hotel mereka semua kamar memang tidak ada kamar mandi di dalam. Agak sedih, karena harga per malam hotel ini hampir sama dengan hotel di Nagoya, tapi yang ini memang kelas low budget. Yah.. mau diapakan lagi. Tokyo mahal (dan kejam).

Meski gue agak malas bolak-balik kamar (lantai 8) – shower (lantai 10) untuk mandi, ternyata kamarnya asik! Gue dapat di lantai agak tinggi, sehingga bisa melihat pemandangan kota. Saat naik lift untuk mandi, gue bisa melihat Sky Tree! Dekat banget! Berdasarkan Google Map, hanya berjarak 1,3km dari hotel. Sayang jendela kamar gue tidak mengarah ke pemandangan tersebut.

Sehabis mandi, gue menyiapkan perlengkapan tempur (baca: baju) untuk bertemu Fukushi Sota, sambil berniat untuk bangun lebih awal agar bisa ke Sky Tree sebelum pergi ke lokasi konser dan langsung tidur.

Hari keempat liburan = hari kedua gue menjadi turis!


[2016.12.28] Day 5 – Tokyo

slide7

Niat hanya akan berakhir niat. Gue tetap bangun siang, sekitar jam setengah 10, padahal MOS mulai pukul 13.00 dan gue harus beli goodies sebelum konser. Habis bangun, bukannya langsung siap-siap pergi, sempat-sempatnya gue foto dulu pemandangan dari jendela kamar gue. Fotonya miring, karena gue tidak kuat lama-lama di luar. Dingin, bro.

img_7314

Karena harus buru-buru ke Tokyo Dome City Hall, gue memantapkan dalam hati akan pergi ke Sky Tree setelah konser, sekalian pulang. Mumpung konser juga selesai sekitar pukul 3 sore. Kalau Tokyo Tower sudah malas duluan karena jauh. Usai mandi dan dandan, gue keluar hotel jam sebelas kurang sedikit.

Gue naik bus dari halte yang hanya berjarak 300 meter dari hotel, sampai stasiun yang gue lupa apa.. tapi dekat Akihabara. Dari sana, gue lanjut naik kereta ke Tokyo Dome. City Hall masih berada di satu komplek dengan Dome.

Sedetik setelah sampai City Hall, gue langsung kabur ke tempat penjualan goodies dan mengantri. Yang akan gue beli hanya dua: pamflet untuk Rifda, dan keychain untuk gue. Dari Jakarta, gue sudah berniat untuk membeli keyholder Sota, tapi saat menganti, gue mulai galau, Sota atau Ucei. Sampai akhirnya gue tiba di loket pembelian, gue mengikuti rencana awal dan bilang ke petugas bahwa gue akan membeli pamflet dan keyholder Sota. Tapi ternyata! Sota sold out! Gue langsung memilih Ucei, tapi kata petugas, punya Ucei juga sold out. Gue pusing, lalu menyesal bangun siang. Merasa bersalah, petugas memberi tahu gue sebelum pertujukan sesi 2 (yang dimulai jam 5), gue bisa kembali lagi karena ada stok penjualan berikutnya. Gue keluar tempat pembelian goodies hanya dengan pamflet Rifda di tangan.

Gue menunggu nomor antrian dipanggil untuk masuk venue, dan langsung lari ke dalam begitu nomor gue dipanggil. Bukan karena sudah tidak sabar bertemu Sota, melainkan karena dingin, hahaha. Karena nomor antrian gue sudah 1000an, dan gue di Arena (yang berdiri di depan stage), gue buru-buru lari turun ke antrian Arena di lantai bawah, sebelum menyadari bahwa staf menyiapkan brosur film dan stageplay anak-anak MOS. Yang gue ambil di tengah keburu-buruan tsb hanya brosur film “Boku wa Ashita, Kinou no Kimi to Date Suru”.

Walau gue sudah hampir di paling belakang Arena, tapi jarak antara gue dan panggung utama masih bisa dibilang sangat dekat, apalagi dengan hanamichi. Sayangnya, panggung agak ketutupan kepala orang dan gue jadi menyesal membeli tiket Arena, padahal Stand lebih asik karena venue yang kecil.
ā—Š Mitla’s Trip Tips #6 – Kalau kalian ingin menonton suatu pertunjukan di Tokyo Dome City Hall, kursi tribun (atau istilah dalam Jepang, Stand) lebih asik daripada harus berdiri di Arena karena jarak pandang ke panggung tidak jauh berbeda.

Sebelum pertunjukan dimulai, empat orang junior (emang Johnny’s? Habis gue ga tahu lagi mau sebut mereka apa XD) KEN ON memperkenalkan diri dan memberi tahu penonton mengenai tata tertib selama konser, juga bagaimana cara memutar handuk saat lagu MOS-yang-entah-judulnya-apa-tapi-sepertinya-itu-lagu-puncak-karena-semua-orang-tahu. Gue cengengesan karena salah satu dari dedek-dedek tersebut adalah Ryota, favoritnya Rifda.

img_7318

Panggung MOS sebelum acara dimulai

Oke, gue akan jelaskan. Gue belum pernah menonton MOS, bahkan dari DVD rip. Rifda sudah mencekoki gue agar menonton, dan gue anggurkan saja videonya di harddisk. Gue beli tiket MOS bukan karena gue suka membernya, tapi pure hanya karena gue ingin melihat Sota dan Ucei, dan supaya trip Tokyo gue tidak garing-garing amat (gue tidak begitu suka Tokyo) selain untuk menonton HANDSOME (yang malah gue tidak jadi pergi untuk menonton karena tidak dapat tiket). Jadi, gue datang ke acara ini tanpa ekspektasi apapun selain Sota dan Ucei.

Awal pertunjukan dimulai, gue tidak berhenti menertawai betapa jeleknya suara mereka. Sumpah gue tidak bohong, lagu pembuka mereka penuh fals di mana-mana. Dan yang buat gue kecewa adalah betapa plain-nya Sota dilihat dengan mata kepala sendiri. Biasanya kan, kalau kita melihat artis, aslinya lebih tampan daripada di layar, tapi Sota biasa saja. Meski Ucei sangat sangat sangat sangat jauh lebih tampan, dan (Nagase) Tasuku (yang gue hapal wajahnya karena Rifda) versi asli bagaikan patung yang dipahat langsung oleh Tuhan; sempurna.

Ternyata!

Gue jatuh cinta. Saat mereka menyanyikan lagu dengan judul “We Are” yang dibuat oleh SPYAIR untuk MOS, ada bagian duet rap oleh Tasuku dan Uesugi Shuhei, dan bagian ini luar biasa keren. Gue terpesona oleh keduanya, dan mata gue hanya fokus pada Ucei-Tasuku-Shuhei. Sota? Wah. Sudah di luar pilihan. LOL.

Sota kembali membuat jidat gue berkerut saat perkenalan member. Ceritanya, keahlian dia adalah karate? atau pertahanan diri lainnya, dan dia sibuk menendang-nendang angin di panggung. Gue… hening. Walau penonton yang lain (yang mayoritas fans Sota) sibuk berteriak, “Sochan kawaii” atau “Sochan ganbare!

Saat Special Stage member, gue kembali girang karena ada duet Tasuku-Shuhei. Karena sebelumnya gue hanya mendengar Tasuku rap, kali ini dia menyanyi, dan suaranya luar biasa indah. Shuhei juga luar biasa keren di bagian rap, dan mungkin ini perform favorit gue sepanjang konser. Favorit Rifda, Ichi(kawa Tomohiro) dan (Irie) Jingi, jujur, bikin jidat gue berkerut lagi. Maaf ya, Rif!

Ada sesi kuis di kelas dengan Ichi sebagai ketua kelas, dan siswa dengan nilai terendah akan dapat batsu game. Ryota-nya Rifda membantu Ichi menghitung skor. Aktor veteran KEN ON, Sawamura Ikki, datang sebagai special guest, untuk mengajarkan dan memberikan kuis kepada member tentang Bahasa Inggris.

Dan di sini terjadi tragedi perpisahan sempurna antara gue dan Sota.

Om Ikki meminta member untuk membuat kalimat dengan “what“, tetapi bukan dalam bentuk seperti “what time is it?“. Karena Shuhei pernah tinggal di Australia, dia yang mendapatkan kesempatan pertama. Shuhei berakting seolah melihat cewek kece di jalan dan, “What a cute girl!

Selanjutnya, giliran Sota karena dia terkenal dengan sedang belajar Bahasa Inggris. Kalimat yang keluar dari mulut Sota adalah.. “What a hot!

Seisi venue: tepuk tangan, teriak “Sochaaan!”
Gue: Hah? What a hot apaan? Maksud lo apa sih? Kok gantung? Dih. Apa banget.

Karena yang dinilai bukan hanya Bahasa Inggris tapi juga kuis lainnya, yang dapat batsu game adalah Ichi, Ucei dan Aoyama; mereka harus mengatakan kalimat cinta membara pada pacar, yang diperankan oleh Jingi, alias Jinko. Pertama Aoyama, masih jaim. Kedua Ucei, nyium Jinko di bibir! Terakhir Ichi. Pilihan kata Ichi luar biasa! “Aku tidak akan menyerahkanmu pada orang lain!” Memang Ichi-Jingi tidak tekalahkan! Bahkan, Jinko langsung memeluk Ichi!

Selain menyanyikan lagu-lagu original MOS, mereka juga mempunyai sesi cover lagu. Sota dan Seto menyanyikan Koi-nya Hoshino Gen, full pakai dance! Manis! Ucei juga ada solo; gue tidak tahu itu lagu apa (kalau dikira-kira, mungkin judulnya Funky Monkey Babys?), tapi suaranya cocokĀ  sama lagu tersebut dan gue juga suka banget perform ini! Favorit nomor dua setelah combo Tasuku/Shuhei!

Setelah menyanyi, (Yamamoto) Ryo(suke) memimpin sesi MC talk, dan member membicarakan bagaimana perform hari ini, dan tujuan di tahun 2017. Di sini, kembali Sota membuat gue lelah. Dia tiba-tiba memotong pembicaraan member lain untuk meminta maaf kasus “what a hot” sebelumnya, karena seharusnya “what a hot woman” dan dia kepikiran terus karena berkata sesuatu yang salah; dan setelah pengakuan ini, Sota merasa lega.

Saat encore, sebelum member menyanyikan lagu penutup, yang di awal tadi sempat diajarkan cara memutar handuk, member memberikan kesan-kesan dan mengucapkan terima kasih atas kedatangan penonton. Di sini, episode Sota membuat gue lelah part 3. Dia bilang, “chinami ni, eigo de wa illumination is chirsmast light,” saat ada member yang membahas betapa indahnya kota di tanggal 20an Desember karena dihiasi illumination.

Oh ya, Ryo mengucapkan selamat ulang tahun ke ibunya yang menonton dan kami semua bernyanyi “Happy Birthday” bersama! Ulang tahun sang ibu seharusnya di hari sebelumnya, tapi Ryo lupa dan baru sempat mengucapkannya saat konser ini. Gue beruntung menyaksikan momen ini.

Konser selesai, gue langsung kabur ke tempat penjualan goodies sambil meneror Rifda, meminta saran keyholder siapa yang harus gue beli, Ucei atau Shuhei. Rifda tertawa dan mempertanyakan eksistensi Sota di hati gue. Setelah membandingkan pose Ucei dan Shuhei di keyholder, gue memutuskan untuk membeli Ucei.

img_7321

Jujur, gue puas banget dengan MOS karena gue datang tanpa ekspektasi apapun, tetapi meninggalkan venue dengan bahagia.

Karena belum makan siang, gue lapar dan membeli sandwich di 7 Eleven sebelah City Hall. Gue makan sambil duduk di depan Sevel, dan gue mendadak beku karena angin dingin yang kejam. Niat untuk ke Sky Tree sekejap hilang dan gue langsung ingin pulang menghangatkan badan.

Sama seperti gue berangkat, rute gue pulang adalah naik kereta (yang isinya hampir semua fans Arashi karena hari itu ada konser Arashi di Tokyo Dome) sampai stasiun dekat halte bus, lanjut bus sampai hotel. Turun di halte dekat hotel, gue mampir konbini untuk membeli makan malam, kentang goreng, dan cream (akhirnya, ga lupa! Yeay!).

img_7328

Selfie sambil menunggu kereta karena si Mama nanya mulu, “Kak, fotonya mana?”

Sampai di hotel, tanpa berganti baju terlebih dahulu, gue langsung mengurung diri dalam selimut untuk menghangatkan badan.. dan tertidur. Bangun-bangun sudah jam 8 lewat. Gue masih bergeming di tempat tidur sambil main HP.

Dan tiba-tiba, sekitar jam setengah 9 lewat, kamar gue bergoyang. Gempa.

Awalnya, sama seperti saat napas gue mengeluarkan asap, gue girang karena ini pertama kalinya gue benar-benar merasakan gempa. Tapi, saat goyangan tidak berhenti hingga beberapa detik setelahnya (sangat terasa lama untuk gue), gue mulai panik. Pertanyaan-pertanyaan mulai keluar di otak gue: apa gue perlu keluar kamar? Apa gue perlu keluar hotel? Yang walau pada akhirnya, gue sudah terlanjur beku di kasur.

Begitu gempa berakhir, gue langsung update di semua media sosial tentang pengalaman gempa di Jepang pertama gue, dan mengabari keluarga tentang ini. Mama panik, tapi gue bilang sudah tidak apa-apa. Eh, tidak lama setelah itu, gempa susulan hingga dua kali. Selamat ya, Mit, minta gempa, sih.
ā—Š Mitla’s Trip Tips #7 – Tokyo sangat sering gempa. Jadi, kalau tiba-tiba kamu merasakan gempa saat di Tokyo, jangan panik. Hotel-hotel di Tokyo sudah dilengkapi dengan anti-gempa, dan kamu tidak perlu khawatir, apalagi panik meninggalkan kamar.

Setelah yakin gempa benar-benar sudah usai, gue mandi, dan dilanjutkan makan. Gue langsung kangen sambal karena kentang goreng yang gue beli terasa sangat asin tanpa sambal T___T
ā—Š Mitla’s Trip Tips #8 – Jangan lupa bawa sambal atau Bon Cabe kalau kalian tidak bisa makan makanan Jepang yang tidak ada rasanya itu.

Sebelum tidur, gue menghubungi GEN mengenai rencana jalan besok, janjian di mana dan jam berapa. GEN bilang akan menjemput gue di depan hotel jam 10, batas maksimal gue check out. Baik banget!

Dan sepertinya, gue mengakhiri hari dengan Shuhei dalam mimpi.
(Uesugi Shuhei karena masih kasmaran akibat cinta pada pandangan pertama di MOS, dan Nomura Shuhei karena akan jalan-jalan keliling Tokyo mengunjungi tempat-tempat yang biasa ia datangi)

One thought on “Japan Winter Trip – [2016.12.27-28] Day 4 & 5 (Yokohama & Tokyo)

  1. 76Alfonzo says:

    Hello blogger, i must say you have very interesting articles here.
    Your page should go viral. You need initial traffic boost only.
    How to get it? Search for: Mertiso’s tips go viral

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s