Japan Winter Trip – [2016.12.25-26] Day 2 & 3 (Nagoya & Osaka)

[2016.12.25] Day 2 – Nagoya

slide4

Walau hari Minggu, Ojou harus kerja, jadi dia berangkat pagi. Gue ogah bangun karena masih capek, dan mengantar kepergian Ojou dari kasur. Haha, iya gue tau gue cuma numpang dan gue ga sopan, tapi kata Ojou tidak apa-apa, kok!

Sekitar jam 8, demi bisa mengejar Shinkansen jam 9.16 ke Nagoya, akhirnya gue bangkit dari kasur dan mandi. Tapi ternyata, gue baru selesai dandan dan packing persiapan Nagoya jam 9an. Mulai buka-buka Hyperdia untuk cari jadwal Shinkansen lainnya bila yang jam 9.40 tidak terkejar oleh gue. Ternyata, Hikari jadwalnya per jam; yang artinya ada kereta jam 10.16, 10.40, 11.16, dan seterusnya.
◊ Mitla’s Trip Tips #4 – Sebelum kalian membeli tiket Shinkansen (atau bila kalian menggunakan JR Pass, sebelum kalian memilih tempat duduk), pastikan kalian sudah tahu Shinkansen mana yang ingin kalian naiki untuk mempercepat pembelian tiket. Jadwal Shinkansen bisa dilihat di Hyperdia, berdasarkan kota asal dan tujuan, waktu, dan jenis kereta.

Karena gue belum sempat mengaktifkan voucher JR Pass gue, gue harus ke Stasiun Osaka terlebih dahulu sebelum bisa naik Shinkansen dari Shin-Osaka. Bodohnya gue, gue buang-buang waktu dengan salah loket. Mengikuti peta yang ada di halaman paling belakang voucher, gue pikir, loket Shinkansen berada persis di depan gate kereta JR. Pertama gue heran, kenapa loket yang gue tuju ini masih tutup. Setelah menunggu lama dan loket tersebut tidak buka juga, gue menyerah dan pergi ke Tourist Information untuk menanyakan di mana gue bisa menukar voucher. Ternyata. Gue asli mau ketawa karena bodohnya gue. Loket penukaran voucher berada persis di sebelah kanan loket penjualan tiket (posisi loket yang gue pikir loket penukaran ada di sebelah kiri loket penjualan tiket).

Saat itu sudah jam 10an, dan gue langsung lari ke loket penukaran dan mengantri. Lumayan banyak turis yang juga menukarkan voucher JR Pass mereka, jadi agak lama. Setelah gue mendapatkan voucher JR Pass yang sudah diaktivasi, gue lari lagi ke loket sebelah untuk memilih kursi di Shinkansen jam 11.40, karena gue takut tidak sempat naik yang jam 11.16.

Karena sudah berbekal voucher yang sudah diaktifkan, gue naik JR dari Stasiun Osaka ke Shin-Osaka. Sempat beli onigiri, sandwich, dan air mineral di 7 Eleven untuk mengisi perut, kemudian lari ke peron. Yang gue takutkan dari Jepang adalah betapa tepat waktunya jadwal kereta; takut ketinggalan, haha. Sampai depan peron persis pukul 11.17, dan gue bersyukur gue tidak jadi ambil tiket yang 11.16. Gue makan onigiri sambil menunggu Shinkansen datang.

Shinkansen tiba, gue duduk di kursi gue yang berada di sebelah jendela, charge HP, lalu tidur. Sempat-sempatnya gue tidur padahal Osaka – Nagoya hanya satu jam.

img_7109

Pemandangan dari Shinkansen menuju Nagoya

img_7106

Warna kuningnya agak oranye, ya? Sempat ragu, takut dikira fans Maru, Bukan Ryo XD

Begitu sampai Nagoya, gue langsung menuju hotel. Belum bisa check-in karena saat itu masih jam 1 kurang. Petugas hotel bilang gue bisa masuk kamar jam 2, dan gue menunggu di lobi hotel. Sempat berpikir untuk menitipkan tas dan langsung pergi ke Dome, tapi gue malas dan malah minum kopi.

img_7111

Pemandangan kota Nagoya saat keluar Stasiun Sakae

img_7112

Jam 2, petugas hotel menghampiri gue dan memberitahukan gue sudah bisa check-in. Setelah check-in, gue masuk ke kamar, dan ternyata kamar gue bagus! the B Nagoya ini hotel bintang 3, dan gue sendiri bingung bagaimana gue bisa menginap semalam di hotel ini dengan harga hanya 3700 yen! Terima kasih, booking.com!

Gue tidur sebentar di kamar, isi botol air mineral yang tadi gue beli di Shin-Osaka sebagai bekal nonton konser, makan sandwich, dan sekitar jam setengah 4, gue berangkat menuju Dome. Hotel gue berada di daerah Sakae, dan ada bus dari terminal Sakae yang melewati Dome. Di bus, ada banyak fans Kanjani8, sehingga gue hanya mengikuti mereka, tidak perlu menghitung berapa halte untuk sampai ke tujuan atau mengecek Google Map. Senang, karena gue jadi tidak terlihat seperti anak yang tidak tahu jalan aka turis. HAHAHA.

Sampai di Dome, gue langsung bertanya kepada staf di mana lokasi penjualan goodies. Sempat nyasar, karena Dome sudah banyak orang, jadi tidak terlihat di mana gue harus belok atau turun tangga. Untungnya, antrian goodies tidak terlalu panjang, gue bisa langsung membeli. Dan gue melakukan hal bodoh yang kedua kalinya hari itu. Gue mencoba menyalakan lightstick tanpa membaca keterangan di kotaknya, dan lightstick tidak menyala. Panik, gue kabur ke tempat refund, tapi ternyata, untuk menyalakannya, tombol harus ditekan lama (sekitar 2-3 detik), sementara gue hanya menekan sedetik. Malu banget sama Mbak-nya.

Sebenarnya gue saat itu kepingin pipis, tapi karena semua toilet penuh dan antriannya panjang, dan mengingat toilet Dome tidak ada airnya, niat pipis gue batal. Gue langsung masuk dan duduk di kursi gue. Kali ini, gue dapat di Stand lantai 2. Membandingkan posisi duduk gue dengan konser WEST kemarin, sepertinya lebih enak posisi gue di Kyocera. Di Nagoya Dome ini, gue agak ke kanan (dari tengah panggung) dan pandangan gue agak kehalang tiang panggung. Kursi gue agak paling belakang, pula. Kalau di Kyocera, walau gue di lantai 3, kursi gue baris ketiga dari depan. Meski demikian, panggung tur kali ini mempunyai 4 hanamichi yang mengarah ke 4 sudut Dome, sehingga gue masih merasa dekat dengan panggung.

Konser dimulai. Gue sudah tidak terlalu culture shock terhadap betapa megahnya konser di Dome. Hanya saja.. Gue kan sudah lama tidak mendengarkan lagu Johnny’s, termasuk Kanjani8. Setlist konser ini banyak menggunakan lagu baru. Hampir paruh pertama konser gue sama sekali tidak tahu lagu apa yang dinyanyikan. Lagu pertama yang familiar buat gue adalah TWL dan gue heboh memutar-mutar sapu tangan kuning hadiah dari fukubukuro.

Yang buat gue terharu adalah, akhirnya gue bisa melihat dengan mata kepala gue sendiri, menikmati dengan telinga gue sendiri Kanjani8 main band. Band sesi pertama, mereka membelakangi gue, jadi gue fokus melihat betapa kerennya Tacchon menabuh drum. Band sesi dua, mereka menghadap gue, dan mata gue hanya tertuju pada Ryo. Apalagi saat Tokyoholic (pertama kali dengar lagu ini, tapi langsung jatuh cinta).

Yang buat gue bahagia adalah, saat MC talk, Ryo lucu sekali. Kalau biasanya gue hanya bisa menonton konser lewat DVD, bagian yang tersorot tiap member itu hanya dari kepala sampai dada; namun kali ini, gue bisa melihat seluruh badan mereka. Seperti biasa, Ryo tidak banyak berbicara, hanya saja.. cara dia bergerak, cara dia memainkan ujung kaosnya, cara dia memainkan kaki, cara dia mengambil botol minum.. semuanya lucu. Manis. Gue overdosis.

Dan karena hari itu hari natal, member berkostum rusa saat encore, menarik Tacchon yang memakai kostum santa dan duduk di atas kereta, sambil menyanyikan Fuwa Fuwa Pom Pom. Jujur, ini pertama kali gue mendengar lagu tersebut, tapi sumpah, manis banget! Member mengerjai Tacchon dengan menarik kereta kencang-kencang, lalu memutar-mutar kereta. Semuanya manis. Terlalu manis sampai gue bisa terkena diabetes.

Kemanisan mereka, khususnya Ryo, tidak berhenti sampai di situ. Member terbang naik balon udara. Karena jumlah member yang ganjil, Ryo naik balon sendiri, dan balon Ryo lewat sisi gue. Ryo lambai-lambai, gue lambai-lambai sampai bego.

Lagu terakhir, Omoidama, harusnya kan lagu serius. Tapi entah kenapa, Ryo hype banget seperti kucing baru makan catnip. Gemas. Dia tiba-tiba nari-nari sendiri. Lambai-lambai tidak berhenti, bahkan pada saat member yang lain menghayati lagu. Sampai konser berakhir pun, saat member pamit, Ryo berteriak kencang sekali. Huhuhu sayang.

Konser diakhiri dengan perasaan gue terhadap Ryo yang tumpah-tumpah. Artis Jepang pertama yang membuat gue jatuh cinta, yang menjebluskan gue ke dalam dunia ini.

img_7130

Sama seperti konser WEST, gue menunggu Dome agak sepi sebelum keluar. Hanya saja, bedanya, di Kyocera, terdapat banyak akses kendaraan: kereta JR, subway, dan bus, yang dapat ditempuh dengan mudah. Di Nagoya Dome, akses termudah meninggalkan venue tersebut hanya dengan subway, sehingga walau sudah menunggu sekian lama, jalan ke stasiun masih macet dengan berpuluh-puluh ribu orang yang pulang.

Sumpah, padatnya, riweuhnya, lebih parah daripada Stasiun Sudirman di rush hour. Seram. Gate tempat tap IC card saja sampai ditutup sementara karena peron yang terlalu penuh. Sedetik setelah dibuka, semua orang langsung dorong-dorongan. Begitu juga saat berebut masuk kereta. Asli, gue takut. Sewaktu gue berhasil masuk kereta, cewek di samping gue jatuh, terinjak, kakinya tersangkut di celah antara peron dan kereta, dan sepatunya jatuh ke rel. Untungnya petugas stasiun Jepang langsung sigap membantu si Mbak.

Sepanjang kereta pulang, gue mengulang-ngulang dalam hati, sebentar lagi, sebentar lagi; karena kaki gue sudah tidak kuat menopang badan di kereta sepadat itu. Yang paling parah, gue teringat kalau gue belum pipis, dan mendadak jadi kebelet. Begitu sampai di Sakae, gue setengah lari ke hotel, tapi mampir dulu di Lawson lantai dasar untuk beli makan malam, lari ke kamar, dan pipis!

Karena belum terlalu lapar, makan malam gue jadi opsi terakhir. Setelah membereskan goodies yang gue beli, gue langsung merendamkan kaki gue di bathtub isi air panas, yang berlanjut gue berendam seluruh badan. Lumayan, melepas lelah dan pegal.

Setelah mandi, gue makan, sikat gigi, live report sebentar di twitter, dan tidur dengan Ryo dalam pikiran.


[2016.12.26] Day 3 – Nagoya & Osaka

slide5

Gue pasang alarm jam 7 dan 7.30, karena check-out maksimal jam 11; tapi tidur lagi sampai jam 9. Itu pun masih malas-malasan di kasur sampai jam 10 kurang, yang dilanjutkan dengan mandi dan keramas yang terburu-buru.

Sambil makan (sisa semalam), gue mengeringkan rambut (ada hairdryer di kamar). Lalu, tiba-tiba gue punya ide. Gue itu sangat tidak suka ada bekas lipatan di kerudung, yang menyebabkan gue selalu menyetrika ulang kerudung gue sebelum dipakai. Untuk trip kali ini, sebisa mungkin gue membawa kerudung jenis katun rawis karena gue tidak merasa terganggu kalau memakai jenis ini tidak disetrika ulang terlebih dahulu; namun karena keterbatasan stok dan warna, ada dua kerudung hycon yang gue bawa, salah satunya yang gue bawa ke Nagoya. Kerudung jenis ini tidak enak dipakai kalau tidakk disetrika ulang, karena akan miring mengikuti bekas lipatan. Ide gue adalah menyetrika kerudung dengan hairdryer.

Kerudung gue bentangkan di tempat tidur dan hairdryer dengan mode yang paling kencang dan panas, gue arahkan ke tiap-tiap bekas lipatan. Ide gue berhasil! Kerudung gue mulus!
◊ Mitla’s Trip Tips #5 – Kalau kalian berhijab dan tidak suka ada lipatan di kerudung kalian saat sedang berpergian, kalian bisa menghilangkan bekas lipatan tersebut dengan hairdryer.

Saat dandan, gue baru menyadari wajah gue kering karena musim dingin dan gue tidak bawa lotion atau pelembab wajah, dan meniatkan diri untuk membeli di konbini, walau ujung-ujungnya lupa dan gue malah langsung menuju Stasiun Sakae untuk menaruh tas di coin locker setelah meninggalkan hotel. Awalnya, gue bingung mau ke Science Museum atau Nagoya Castle dulu. Setelah mengecek jalan lewat Google Map, gue baru tahu kalau museum di Jepang itu tutup setiap Senin, yang artinya Science Museum juga tutup. Akhirnya, gue langsung pergi ke Nagoya Castle.

Keluar stasiun, gue disambut gedung balai kota. Super keren! Dari balai kota, gue jalan menuju Nagoya Castle yang katanya berjarak 1.3km, tapi ternyata 1.3km itu hanya sampai gerbang depan. Ke dalamnya butuh jalan jauh lagi. Kaki gue mulai sakit karena belum pulih dari 2 konser beruntun yang membuat gue berdiri berjam-jam.

img_7145

Balai Kota Nagoya

img_7146

Menuju Nagoya Castle

Di Nagoya Castle pun banyak orang yang memakai atribut Kanjani8, mungkin sekalian berlibur setelah menonton konser; sama seperti gue. Sebelum masuk ke dalam kastil, gue sempat duduk sebentar di taman sambil memakan katsu dan foto pemandangan dengan tulisan “Happy Birthday Vina” karena bocah itu ulang tahun tanggal 26 Desember.

img_7148

Ubin pemandangan Nagoya Castle di depan gerbang kastil

Setelah berhasil mengumpulkan energi, gue masuk ke dalam kastil. Gue cinta suasana pameran di dalam, karena nyaman. Setiap lantai berisi kisah yang berbeda, ada sejarah terbentuknya kastil, ada strata orang yang tinggal di dalam kastil, perlengkapan rumah tangga, menu makanan, dan lain-lain. Sayangnya, energi gue juga terkuras habis karena total gue naik 5 lantai dengan tangga.

img_7156

Nagoya Castle

img_7177

Usai puas berkeliling kastil, gue bingung mau ke mana. Jadwal bertemu Kana, Ryo-san, dan Puppy baru jam 8 malam, sementara saat itu masih jam 2an dan Nagoya-Osaka hanya 1 jam dengan Shinkansen. Sempat berpikir untuk ke Science Museum, hanya melihat luarnya saja, tapi tiba-tiba gue teringat kalau film Sota yang baru, “Boku wa Ashita, Kinou no Kimi to Date Suru” sedang tayang di Jepang dan gue memang kepingin menonton film tsb. Gue google jadwal penayangan di  Osaka (pulang dulu, baru ke bioskop sekalian menunggu malam), tapi ternyata di Osaka hanya ada jam 3 dan jam 6. Kalau yang jam 3, tidak keburu. Yang jam 6, takut terlambat bertemu Kana dkk. Gantinya, gue google jadwal penanyangan di Nagoya, dan ada bioskop berjarak hanya 4km dari Nagoya Castle yang menayangkan film tsb jam 3.10. Karena gue tidak mau berjalan jauh lagi, gue naik taksi dari depan gerbang. Lumayan, habis 1700 yen.

“Boku wa Ashita, Kinou no Kimi to Date Suru” adalah film pertama yang gue tonton di Jepang. Mahal, 1800 yen. Sebelumnya, belum ada film yang bikin gue merasa worthed untuk ditonton dengan harga segitu. Beruntunglah kamu, Sota, telah memenangkan hati dan kantong gue.

Filmnya lumayan. Sota tampan (seperti biasa), dan Nana juga cantik. Cowok di samping gue menangis sampai ngelap ingus dengan sapu tangan, buat gue kepingin ketawa tapi tidak jadi karena nanti dianggap tidak sopan. Sambil jalan keluar bioskop, gue membuka Google Map untuk mencari jalan ke Stasiun Sakae ternyata bioskop yang gue datangi itu justru malah dekat sekali dengan Stasiun Nagoya (tempat naik Shinkansen). Tahu begitu gue taruh tas di Stasiun Nagoya, kan!

Dengan langkah pelan sekalian buang waktu, gue booking kursi Shinkansen di Stasiun Nagoya, naik kereta menuju Sakae, ambil tas dari loker, dan kembali ke Stasiun Nagoya dan langsung ke peron Shinkansen. Kalau tidak salah kereta gue jam 6 lewat. Shinkansen datang, naik, charge HP, tidur. Rutinitas, hahaha.

Sampai di Shin-Osaka, gue lanjut ke Umeda, dan karena saat itu masih jam 7, gue mampir ke Kinokuniya sebentar, mencari beberapa novel film-film (Ayano) Go dan manga “Totsuzen desu ga, Ashita Kekkon Shimasu”. Tapi manga tidak ada, novel-novel pun juga tidak ada yang kepingin banget dibeli. Akhirnya gue memutuskan untuk menunggu di depan HEP FIVE saja karena Kinokuniya penuh orang.

Sekitar setengah jam menunggu, Kana datang. Kangen! Tidak lama kemudian, Ryo-san datang. Terakhir Puppy. Setelah kumpul berempat, kami langsung masuk dan naik ke lantai 7 (atau 8?) menuju Gudetama Cafe.

GUDETAMA CAFE ITU SURGA. Asli, di dindingnya, dari ujung sampai ujung, ada gambar Gudetama dengan berbagai pose. Ada boneka Gudetama. Ada patung Gudetama. Telur di setiap menu pun dikasih ekspresi Gudetama. BAHAGIA. Kami makan sambil catching up, mengobrol tentang keseharian masing-masing. Sehabis makan (dan foto-foto), kami pergi menuju Sky Building, tapi karena hujan, kami pindah haluan dan memutuskan untuk naik bianglala HEP FIVE. Kana girang, karena dia sudah lama tidak naik bianglala, katanya. Ternyata, bianglala HEP FIVE tinggi juga! Dari atas, seisi Osaka bisa terlihat, bahkan sampai Osaka Castle.

This slideshow requires JavaScript.

img_7212

img_7217

Sehabis naik bianglala HEP FIVE

Karena sudah malam dan esoknya mereka bertiga harus bekerja, kami melangkah ke stasiun. Sempat mengobrol lagi kira-kira 20 menit karena gue belum mau berpisah. Gue sempat mengajak mereka bertemu lagi setelah gue pulang dari Tokyo, tanggal 30 atau 31. Ryo-san tidak bisa karena sudah ada janji. Puppy pulang ke Gifu. Kana bisa tanggal 30 dan mengajak bertemu di Kyoto, sekalian makan malam bersama Lita (dia sedang kuliah di Kyoto).

Setelah akhirnya berpamitan, gue pulang ke apartemen Ojou. Ojou di rumah seharian, libur pengganti Sabtu-Minggu yang kerja. Sambil beberes, gue menceritakan pengalaman konser Kanjani8 perdana gue, dan Ojou juga menceritakan saat ia dan Fie menonton konser Are You Happy? Arashi di Kyocera beberapa minggu lalu.

Sehabis ketawa-ketiwi, tiba-tiba Ojou bilang, “Mit, dulu lo menti gue kan ya, waktu NM? Lucu ya, dulu kita mentor-menti di NM, sekarang kita berdua begini di Jepang.” Gue terharu T___T

Gue mandi, dan kami siap-siap tidur, walau pada akhirnya tidur terlambat karena Ojou iseng mencari tiket tangan kedua untuk Are You Happy? ronde terakhir di Fukuoka (yang harganya mencapai 300,000 yen!). Gue tidak ingat kapan kami benar-benar tertidur, tapi sepertinya kami ketiduran di tengah-tengah perbincangan.

Hari ketiga liburan gue di Jepang, adalah hari pertama gue benar-benar menjadi wisatawan di Jepang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s