Japanese Film Festival: Mitla’s Review

Mulai tanggal 24 hingga 27 November 2016, Japan Foundation menyelenggarakan Japanese Film Festival 2016 yang menayangkan total 14 film Jepang dan bertempat di Cinemaxx fX Sudirman. Memanfaatkan momen ini – dan harga tiketnya yang juga murah, hanya Rp 20.000 per film, gue dan teman-teman SFC segera membeli tiket begitu penjualan tiket dibuka (18 November 2016).

Total, gue membeli 8 tiket, dan berikut review gue mengenai film yang gue tonton.

Kamis, 24 November 2016

chihayafuru-p1Chihayafuru Kami no Ku (Chihayafuru Part 1)
Sutradara: Koizumi Norihiro
Aktor: Hirose Suzu, Nomura Shuhei, Mackenyu

Review: 4,5/5

Ceritanya, pemainnya, lokasinya, pengambilan gambarnya, semua fresh! Tidak seperti kebanyakan live action yang diangkat dari shoujo manga – berbau roman, Chihayafuru Part 1, hampir tidak meninggalkan jejak tentang percintaan klise anak SMA. Film ini justru mengajarkan bagaimana mengejar mimpi melalui hobi – tentang kerja sama dan saling percaya dalam pertemanan.

Slow motion-nya juga memberikan efek yang membuat karuta semakin wow. Jujur, sehabis nonton ini, gue langsung cari tahu lebih lanjut tentang karuta dan menonton video pertandingan karuta di YouTube.

Kalau menonton demi eye-candies, Nomura Shuhei yang memerankan tokoh Mishima Taichi) dan Mackenyu (Wataya Arata) cukup manis untuk jadi vitamin A.

 

Jumat, 25 November 2016

over_the_fence-p2Over the Fence
Sutradara: Yamashita Nobuhiro
Aktor: Odagiri Joe, Aoi Yu, Matsuda Shota

 Review: 3/5

Sejujurnya, film ini yang sangat gue nanti-nanti dari JFF selain Chihayafuru. Film ini belum lama tayang, tapi selalu menghiasi timeline twitter gue, entah di-retweet oleh teman gue yang orang Jepang, atau dari akun situs berita lainnya. Apalagi, Odagiri Joe dan Aoi Yu masing-masing memenangkan penghargaan Best Actor dan Best Actress di TAMA Award.

Tapi, oh, tapi. Film ini tipikal film festival Jepang. Slow paced, terfokus hanya pada satu cerita, tanpa klimaks.

Meski begitu, seperti tipikal film festival – atau fiksi Jepang pada umumnya, yang benar-benar merujuk kepada kisah nyata, karena “happily ever after” itu hanya dalam dongeng dan tidak mungkin terjadi di kehidupan nyata, Over the Fence mengajarkan bagaimana kembali hidup setelah hidup mencampakkan kita. Bagaimana Shiraiwa (Odagiri) menyusun kembali hidupnya setelah berpisah dengan istrinya, bagaimana Satoshi (Aoi) menghiraukan pendapat orang-orang mengenai tingkah aneh-nya, bagaimana Dai (Matsuda) memberanikan dirinya untuk memulai usaha baru.

 

fukigen_na_kako-p1Fukigen na Kako (Kako: My Sullen Past)
Sutradara: Maeda Shiro
Aktor: Koizumi Kyoko, Nikaido Fumi, Yamada Mochika

Review: 2,5/5

Satu lagi film tipikal film festival Jepang. Gue tidak mengerti pesan yang ingin disampaikan dan inti cerita. Dan mungkin karena factor gue menonton film ini pukul 9.30 malam, gue sempat tertidur beberapa kali.

Menjelang akhir film, komedi yang natural mulai muncul, dan di saat aku berpikir film mulai seru, cerita berakhir begitu saja.

Review setelah mendengar penjelasan sutradara: 3,5/5

Ternyata, apa yang ingin sutradara sampaikan lewat film ini sangat di luar dugaan. Sutradara menggambarkan tiga tokoh utama: Mikiko (Koizumi), Kako (Nikaido), dan Hana (Yamada) sebagai satu kehidupan manusia yang utuh: anak-anak, remaja, dan dewasa. Mindfuck.

 

Sabtu, 26 November 2016

Sebenarnya, Sabtu siang adalah jadwal gue menonton film An (Sweet Bean). Hanya saja, dikarenakan tol dalam kota yang entah ada apa macetnya terlalu sangat luar biasa sejak Cawang hingga Semanggi, gue batal menonton film ini T_T

 

sanada_ten_braves-p1Sanada Juyushi (Sanada Ten Braves)
Sutradara: Tsutsumi Yukihito
Aktor: Nakamura Kankuro, Matsuzaka Tori, Nagayama Kento

Review: 4/5

Dimulai dengan sedikit cuplikan cerita versi anime, film yang ternyata kaya akan komedi ini sangat wajib patut harus untuk ditonton. Yang gue suka dari film ini adalah, bagaimana dua tokoh utama, Sasuke (Nakamura) dan Saizo (Matsuzaka), serta delapan pasukan pemberani Sanada lainnya yang berbeda kepribadian bisa berjuang bersama-sama menuju satu tujuan. Selain itu, yang bikin gue tergugah adalah bagaimana kita mengakui kebohongan, bagaimana melawan rasa takut, bagaimana menaikkan harga diri sendiri, dan bagaimana mewujudkan kebohongan untuk menjadi sebuah kenyataan.

Film ini diangkat dari kisah nyata, yang sebenarnya sampai sekarang gue masih belum ngeh kronologis ceritanya. Meski diangkat dari sejarah, tokoh dalam film ini dipadu antara tokoh beneran dan tokoh bohongan.

 

Minggu, 27 November 2016

 

the_magnificent_nine-p02Tono, Risoku de Gozaru! (The Magnificent Nine)
Sutradara: Nakamura Yoshihiko
Aktor: Eita, Abe Sadao, Tsumabuki Satoshi

Review: 4,5/5

Film sejarah lain yang diangkat dari kisah nyata. Berkebalikan dengan Sanada Ten Braves – yang awalnya gue pikir merupakan film kolosal serius, namun ternyata kaya akan komedi, The Maginificent Nine yang awalnya gue pikir film komedi justru merupakan film sejarah yang serius! Entah berapa liter air mata yang jatuh saat gue menonton film ini. Dimulai dari Sugiwaraya (Eita) yang menyampaikan ide untuk membantu kampung mereka, Yoshioka, bebas dari kemelaratan, berdua dengan Kodaya (Abe), mereka berusaha menyukseskan ide tersebut.

Namun, dibalik wajah-wajah penduduk, ternyata ada yang menyimpan sebuah rahasia besar yang sudah ditutupi berpuluh-puluh tahun lamanya.

Film ini penuh dengan nilai moral; untuk selalu memberi dan jangan menyakiti, jangan menilai orang dari peringainya, juga kasih sayang keluarga dan peduli terhadap sesama.

Pemenang medali emas untuk figure skater di Olimpik 2014, yang juga saat ini menjadi skater nomor 1 dunia (berdasarkan ISU), Yuzuru Hanyu yang menghiasi film ini juga menjadi alasan bagus untuk menonton!

 

its_tough_being_a_family-p1Kazoku wa Tsurai yo (What a Wonderful Family!)
Sutradara: Yamada Yoji
Aktor: Hashizume Isao, Yoshiyuki Kazuo, Tsumabuki Satoshi

Review: 4,5/5

Awalnya, gue pikir film ini akan seperti Ai wo Tsumu Hito, film keluarga – slice of life yang gue tonton di JFF 2015; sedih tapi indah. Ternyata oh ternyata, film ini justru penuh dengan komedi yang natural! Menonton keluarga Hirata, gue seperti memahami perasaan Noriko (Aoi Yu) yang mengatakan bahwa dia iri melihat seluruh keluarga Hirata berkumpul membicarakan satu masalah bersama-sama.

Meski penuh dengan pertengkaran, keluarga Hirata digambarkan sebagai keluarga yang hangat. Hubungan kakak-adik Konosuke (Nishimura Masahiko), Shigeko (Nakajima Tomoko) dan Shota (Tsumabuki), serta suami-istri mereka juga semakin membuat film ini wajib ditonton.

Bukan hanya itu, dialog yang digunakan pun indah, meski diujarkan dalam kalimat sehari-sehari.

 

chihayafuru_part_ii-p1Chihayafuru Shimo no Ku (Chihayafuru Part 2)
Sutradara: Koizumi Norihiro
Aktor: Hirose Suzu, Nomura Shuhei, Mackenyu

Review: 3,5/5

Bertemu Taichi lagi!

Hanya saja, berbeda denga Part 1, plot Chihayafuru Part 2 berjalan lebih cepat – seolah penonton tidak diberi kesempatan untuk memahami bagaimana cara bermain karuta, atau lebih tepatnya, bagaimana cara kerja kompetisi karuta.

Tapi, sama seperti Part 1, pengambilan gambar tetap fresh! Di Part 2 juga, semakin terasa betapa indahnya bekerja sama dalam tim, dan semakin dalamnya hubunga antara Chihaya (Hirose) dan Taichi, keduanya dengan Arata, dan keduanya dengan tim karuta sekolah.


Kalau dari total 7 film tersebut yang gue tonton, favorit gue adalah What a Wonderful Family!

Sebenarnya agak galau antara What a Wonderful Family! atau The Magnificent Nine karena dua-duanya sama-sama bagus. Tapi, kalau disuruh pilih satu.. dan karena gue tidak terlalu suka sejarah.. ya begitulah. LOL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s