Uang, uang, uang.

Sejak mulai bekerja dan punya uang sendiri, entah mengapa, cara pandang gue jadi sedikit berbeda.

Pengeluaran lebih banyak, sudah pasti. Beli laptop baru, eksternal harddisk baru, tablet, dompet buat Papa. Hampir ga pernah naik angkot lagi. Gojek atau Grabbike pun jarang. Selalu Uber. Gue yang tadinya hobi tawaf keliling Tamini atau PGC demi mencari kemeja/blus/kaos 35 ribuan yang bagus dan tidak terlihat murah, sekarang mulai sering membeli baju-baju dengan merk yang cukup terkenal (meski barang yang dibeli pasti ada tag “diskon”). Jajan lipstik tidak pakai pikir panjang. Frekuensi beli novel pun naik. Dulu hanya mengincar buku terjemahan, tapi sekarang, jumlah buku impor meningkat drastis dan rasanya aneh kalau situs Periplus sedang down dan tidak bisa di-akses. Yang dulu dapat membeli single/album flumpool saat punya uang saja, sekarang bisa langsung beli dan koleksi (hampir) komplit. Bahkan, 23 Juli besok, gue akan pergi ke Singapura untuk menonton konser mereka, dengan tiket Premium VIP seharga SGD 198.

Walau begitu, gue jadi jauh lebih menghargai uang.

Pengeluaran-pengeluaran tadi mungkin bisa gue bilang sebagai definisi “work hard play hard” versi gue. Play hard-nya ini pun, terbagi lagi menjadi beberapa jenis play. Play yang gue turuti bisikan setannya adalah yang bisa gue nikmati dalam jangka panjang; atau kalau dalam hal konser, momennya yang tidak akan hilang. Play yang gue pikirkan lagi itu.. Misal, gue sedang buka online shop, lalu melihat harga TV LCD atau sejenisnya dengan harga yang bisa gue jangkau. Gue akan berpikir, “Memang sih, gue dari dulu kepingin punya TV di kamar. Tapi, kalau gue beli sekarang, nanti kalau gue menikah dan pindah rumah (apalagi kamar), itu TV apa kabar? Mending uangnya buat beli TV yang sesuai dengan rumah (atau kamar) baru setelah menikah nanti.” Sempat agak menyesal juga, waktu awal-awal bergaji, kalap beli karpet dan sofa angin demi menghias kamar. Padahal kalau sekarang dipikir, mungkin karpet masih oke, tapi sofa angin?

Ini yang gue sebut cara pandang jadi berbeda.

(Asli, Mit. Calon saja belum ada, sudah kebelet menikah gitu)

Kira-kira begitu.

 

(Tulisan ini dibuat saat Mitla sedang lapar di siang bolong saat bulan Ramadan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s