[REVIEW] Half Life Trilogy by Sally Green

Sekilas mengenai pertemuan Mitla dengan Half Life Series

Awal kenal series ini, seperti biasa, gue lagi keliling Gramedia untuk nyari novel yang bikin gue fall in the first sight. Beberapa kali keliling di berbagai toko yang berbeda, entah kenapa, gue selalu ke-catch sama Half Bad dan Half Wild. Saat itu, yang gue lihat yang terjemahan Indonesia-nya, dan yang gue ingat hanya sinopsisnya. Biasanya, kalau ada novel yang menghantui pikiran gue, gue selalu langsung beli saat itu juga. Entah kenapa, gue ga beli-beli dua novel ini. Sampai suatu ketika, Rifda menawarkan jajan di Periplus demi mendapat ongkir gratis (kalau di atas 200.000). Gue langsung googling judul berdasarkan ingatan gue akan sinopsisnya, dan akhirnya ketemu.

Kebetulan, saat Rifda nanya, mau yang Inggris atau yang Indonesia; yang Inggris, dua-duanya, Half Bad dan Half Wild, lagi diskon. Beda harga dengan yang Indonesia hanya sekitar 10-20.000. Tanpa pikir panjang, gue pilih yang Inggris. Mungkin memang gue jodohnya sama yang Inggris kali ya, menjawab pertanyaan mengapa gue ga beli-beli yang Indonesia.

Datanglah kedua buku itu. Waktu itu, gue belum sempat baca. Tapi, Rifda sudah baca dan review Half Bad. Bagus banget, katanya. Gue langsung buka Half Bad gue, dan mulai baca.

Selesai baca Half Bad, gue yang niat awalnya mau baca PJO dulu (kado ultah dari Rifda karena dia mau banget gue terjerumus ke dalam fandom PJO), langsung tanpa pikir panjang, buka Half Wild. Baca series ini ga bisa berhenti. Kepikiran terus. Kebawa mimpi. Selesai baca Half Wild, kira-kira awal Januari; gue langsung googling tentang lanjutannya, yang ternyata berjudul Half Lost, yang (saat itu, akan) rilis akhir Maret 2016. Gue belum pernah se-desperate ini sebelumnya menunggu rilisan dari sebuah buku.

Gue sampai tanya Periplus, apakah akan buka PO untuk Half Lost (karena iri sama HP yang ada PO The Cursed Child di mana-mana). Tidak ada, katanya. Sedih. Tapi ternyata, Half Lost sudah bisa dipesan sejak pertengahan Maret. Waktu itu harganya 189.000. Biar gratis ongkir, gue tambah Never Let Me Go.

Periplus hanya e-mail tentang update order gue yang NLMG. Half Lost sama sekali ga ada. Gue pikir, berdasarkan e-mail yang katanya pesanan gue akan di-ship per 29 Maret dan membutuhkan 2 minggu untuk sampai, maksudnya adalah, barang akan sampai di gue 2 minggu setelah 29 Maret, mengingat Half Lost yang baru rilis tanggal 31.

TERNYATA! 2 minggu yang dimaksud adalah sejak gue memesan. Yang membuat Half Lost sampai di tangan gue persis tanggal 31 Maret. Baik banget, ga sih, Sally Green? Bikin gue yang jauh di Indonesia, bisa baca bukunya tepat saat hari rilisnya. Gue, hari itu, sehabis makan Indomie di warkop pulang kerja, girang setengah mati saat sampai rumah dan lihat paket dari Periplus. Awalnya gue pikir pesanan gue dikirim terpisah dan yang datang NLMG duluan. Saat buka paket dan ternyata ada Half Lost, asli, gue ga peduli sama sekali sama NLMG. LOL.

Langsung baca saat itu juga. Girang setengah mati saat kapal gue berlayar. Nangis ga berhenti, sampai susah baca karena mata basah terus sejak halaman 318. Ga bisa move on sampai berakhir dengan bikin fanart. [PS: Fanart gue di-retweet dan di-love Sally.]

Sebagus itu.

Gue bahkan promosi ke semua orang via twitter, instagram dan path, untuk baca series ini.

Parah. Sebagus itu.

 

halfs

Sampul tiga buku dari Half Life Trilogy

REVIEW

Nilai tambah:

1. Tokoh utama yang abu-abu dan anti-hero; Nathan.

Biasanya, kita hampir selalu mendapat tokoh utama yang sepenuhnya baik, dan menjadi hero tanpa ia mengerti alas an sebenarnya ia dilahirkan. Nathan merupakan perpaduan dari baik dan jahat. Putih dan Hitam. Ibunya White Witch, ayahnya Black. Ia Half White dan Half Black. Ada sisinya yang mencerminkan ia bagian dari White, namun tidak dapat dipungkiri juga, ia mempunyai sisi Black. Ia tidak diterima di kalangan White, ia tidak diakui sebagai sepenuhnya Black. Buku pertama, Half Bad, lebih menceritakan mengenai pencarian jati diri Nathan. Buku kedua dan ketiga, Half Wild dan Half Lost, menggambarkan Nathan yang lebih ke arah pembunuh, bukan hero.

2. Witch yang bukan hanya magic.

Di series ini, para witch bukan beradu mantra seperti di HP. Mereka mempunyai Gift, yang didapat setelah mereka melakukan Giving Ceremony saat mereka menginjak usia 17 tahun. Gift yang didapat berbeda-beda, tergantung masing-masing orang.

3. Biseksual dan LGBT.

Memang tidak jarang novel yang memasukkan unsur LGBT ke dalamnya. Namun, yang terlibat kasus percintaan LGBT di series ini adalah tokoh utama, Nathan.

Oh ya, gue sarankan, baca Inggris-nya, ya. Setelah membandingkan antara versi Inggris dan Indonesia, terjemahan Indonesia memotong bagian-bagian yang mengandung LGBT. Padahal, menurut gue, bagian itu penting. Dan gue juga ga tahu, apakah Half Lost ini akan diterjemahkan atau ga, mengingat penuh dengan LGBT.

4. Nathan POV.

Half Bad bercerita mengenai masa kecil Nathan hingga ia menjalani Giving Ceremony-nya. Dengan Nathan POV, kita dapat ikut merasakan bagaimana menjadi seorang Nathan, yang hidup dengan kebencian di sekitarnya. Dengan pengotak-kotakan. Dengan label BW yang ditempelkan padanya. Pada Half Wild, kita juga dapat ikut merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta, bagaimana perasaan kagum kita terhadap orangtua meski hampir sepanjang hidup kita belum pernah bertemu padanya. Pada Half Lost, kita ikut memutuskan pilihan yang kita anggap benar dalam hidup.

(Sekalian menyangkut ke poin nomor 5, karena Nathan POV, kita menjadi paham, betapa pentingnya Gabriel dalam hidup Nathan)

5. Gabriel

Untuk poin ini, sepertinya tidak perlu penjelasan panjang. Gue yakin, semua orang yang baca series ini akan jatuh cinta dengan Gabriel.

6. Arran

Sebelum berkenalan dengan Gabriel, gue yakin semua orang akan jatuh cinta dan kangen dengan Arran. Ia kakak Nathan, tetapi sepenuhnya White Witch. Arran mengajarkan bahwa kasih sayang antar keluarga itu begitu indah. Awas nangis bacanya!

7. Ending yang bingung harus diklasifikasikan sebagai happy atau sad

Kalau ini harus baca sendiri. Dan kalau bisa sih, kasih tau gue, ya; menurut kalian ini happy atau sad.

 

Nilai kurang:

1. Penulisan dan jalur cerita yang agak tidak fokus dan bertele-tele.

Half Bad adalah novel debut dari Sally Green. Sebenarnya, wajar bila Sally masih belum sepenuhnya dapat menyampaikan dunia yang ingin ia berikan ke orang lain lewat bukunya. Karena, ini hanya pendapat gue, untuk sebuah novel debut, series ini terlalu bagus. Tapi, ya.. Kadang agak kurang sreg juga kalau menemukan bagian yang bertele-tele dan seharusnya dapat dirapikan.

2. Perdebatan mengenai karakter LGBT.

Ini bukan nilai kurang dari gue. Ini nilai kurang yang gue tangkap dari pembaca secara global. Setelah pembaca selesai denga Half Lost, rata-rata, protes yang mereka utarakan adalah mengenai ketidakadilan akan karakter dengan LGBT; mengapa LGBT tidak pernah mendapat akhir kisah yang indah dari sebuah cerita.

Sally bahkan sampai membuat klarifikasi mengenai perdebatan ini di tumblr-nya.

 

PS:

Kalau kalian sadar, home blog ini bahkan sudah berubah menjadi “wounded, not lost.” Quote terperih 2k16 yang Sally populerkan lewat Half Lost. Gue juga ganti status WhatsApp, LINE, dan bio di twitter dengan quote ini. LOL.

4 thoughts on “[REVIEW] Half Life Trilogy by Sally Green

  1. Bree says:

    Hi…aq juga suka bgt buku ini, sedikit berbeda dari cerita yg lain, ga sabar jg tunggu kelanjutannya. Btw, versi Indo-nya kpn terbit ya?
    Aq jg suka series World After by Susan Ee

    • rainbowbreathe says:

      Menurutku sih ada kemungkinan besar Half Lost ga diterjamahin ke Bahasa Indonesia karena konten LGBT yang banyak. Kalau di Half Wild kan, sedikit. Jadi, kalau dipotong bagian itu, masih cukup nyambung jalan ceritanya. Sementara Half Lost… Bakal aneh kalau tetap mau dipaksa diterjemahin tapi bagian tsb dipotong juga..

  2. p' pao says:

    mbak, yang dimaksud LGBT itu apa, ya?? saya dulunya juga mikir kalo gabriel itu suka sama nathan tapi ternyata gabriel itu adalah perempuan yang terjebak ditubuh laki-laki. kalo enggak salah tapi :3
    reviewnya keren kaka, detail. good luck (y)

    • Mitla Taslima says:

      Gabriel laki-laki tulen, kok.
      Bagian LGBT dari series ini adalah hubungan Nathan-Gabriel yang bisa disebut homoseksual; walau sebenarnya yang homoseksual hanya Gabriel, sementara Nathan itu biseksual (bisa suka cewek dan cowok).
      Kalau kamu baca Half Lost, kamu akan mengerti kok ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s